Sabtu, 05 Juni 2010

BUKAN IKLAN

INI BUKAN IKLAN
BUKAN JUGA PROMOSI
TETAPI HANYA SEBUAH AJAKAN
DAN HIMBAUAN
untuk saudara-saudara yang mencintai dan pemerhati Budaya Jawa
Selamat datang,

Selamat datang dan terimakasih Anda telah menjenguk blog ini. Apabila Anda pengguna atau pemerhati bahasa Jawa dan Anda tertarik akan upaya peningkatan bahasa Jawa Anda saya ajak untuk bergabung bersama kami.

Bahasa atau sastra Jawa sebagai bagian budaya Jawa yang adi luhung, marilah kita lakukan tindakan-tindakan konkrit untuk mempertahankan dan lebih-lebih mengembangkan bahasa Jawa ini sehingga lebih berdaya guna.
Perbendaharaan istilah Jawa bisa dikatakan tidak atau kurang berkembang sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga sering kali penutur berbahasa Jawa menghadapi kesulitan mengungkapkan secara tepat istilah dalam bahasa Jawa karena terbatasnya perbendaharaan bahasa Jawa, sementara peri kehidupan dari berbagai bidang kehidupan termasuk cabang-cabang ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat yang mau tidak mau banyak membutuhkan istilah-istilah baru.

Tanpa peran serta Anda dan para pengguna bahasa Jawa lainnya, kami tidak ada artinya dan mustahil untuk mampu membentuk kata atau tembung baru dalam bahasa Jawa. Maka Anda kami ajak untuk bersama-sama dalam upaya mengembangkan bvahasa Jawa lewat bentukan tembung-tembng baru bahasa Jawa Lewat proses akronim.

Setelah Anda selesai membaca artikel dibawah ini dan Anda tertarik untuk ulur tangan, maka dipersilakan Anda menyumbangkan buah pikiran Anda dengan cara menuliskan komentar Anda dalam blog ini sebagai tanggapan sesuai yang diharapkan dalam teks ini.

Pastilah buah pikiran, sumbang saran dan kepedulian Anda sangat bermanfaat bagi pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa, untuk itu diucapkan terima kasih sebesar-besarnya.




BENTUKAN TEMBUNG BARU BAHASA JAWA DENGAN
PROSES AKRONIM

PERKEMBANGAN kehidupan bangsa-bangsa di dunia ini semakin ke depan semakin maju. Perkembangan dalam segi kehidupan. Ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan dll. Bahasa sebagai alat komunikasipun harus berkembang untuk penyampaian tutur lisan maupun tulis.
Tidak terkecuali bahasa Jawa. Supaya bahasa Jawa masih berdaya guna bagi para penggunanya, maka perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman, sesuai dengan yang dibutuhkan. Menurut pengamatan penulis bahasa Jawa sejak kemerdekaan NKRI sampai dengan sekarang rasanya pengembangan perbendaharaan bahasa Jawa kurang berarti. Seringkali penutur bahasa Jawa kesulitan mencari istilah-istilah tertentu dalam bahasa Jawa karena memang belum ada.

Karena itulah penulis mengajak saudara-saudara yang berkeinginan bahasa Jawapun mampu mengungkapkan keinginan seseorang dalam penuturan bahasa Jawa untuk berbagai segi kehidupan. Caranya bagaimana?

Kita perkaya perbendaharaan bahasa Jawa dengan membentuk tembung-tembung baru dalam bahasa Jawa. Oleh siapa? Oleh kita semua pengguna bahasa Jawa.

Dalam prakteknya para penulis dan penutur bahasa Jawa menggunakan bahasa lain untuk istilah tertentu karena bahasa Jawa memang belum ada. Dengan menggunakan apa yang disebut:

1. TEMBUNG MUPU
2. TEMBUNG AMPIL
3. TEMBUNG ENGGAL terdiri:
TEMBUNG ENGGAL AKRONIM
TEMBUNG ENGGAL DADAKAN

No1 dan 2 sudah banyak digunakan oleh penutur bahasa Jawa kita, tetapi cara no 3 ini sangat jarang sekali. Dalam wacana ini hanya dibatasai pembentukan tembung baru bahasa Jawa dengan proses akronim. Apa yang disebut proses akronim? Untuk memahami tentang akronim ini lebih lanjut dipersilakan Anda membaca artikel yang berjudul “Pengembangan Bahasa Jawa” yang disajikan pula dalam blog www.ngujiwat.co.cc ini secara tersendiri.

Proses akronim dimaksudkan ialah proses pembentukan kata dengan merangkaikan huruf, suku kata atau bagian dari suku kata atau lebih, dengan tetap mempertahankan makna kata kepanjangannya. Misalnya tembung enggal: pramuka, pangestu, puskesmas, posyandu dan lain sebagainya. Selanjutnya tembung-tembung bahasa Jawa yang diangkat dari proses akronim kita sebut ‘tembung akronim’

Penciptaan tembung-tembung baru akronim ini penulis berpendapat ini cara paling efektif untuk mengetengahkan tembung-tembung enggal bahasa Jawa dimana kumunitas Jawa sudah terbiasa menggunakan tembung macam itu sehari-hari misal cerkak, cerbung, pakdhe, budhe dll. Disamping itu tembung akronim maknanya mudah dilacak dari unsur-unsur pembentuknya.

Tembung akronim seperti dicontohkan diatas jumlahnya sangat terbatas untuk memberi nama kegiatan, kelompok kegiatan tertentu dan pencanangannya oleh tokoh bangsa/masyarakat. Namun masih banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari masih belum tampil padahal lebih dibutuhkan. Maka mari kita cari tembung enggal akronim itu oleh kita dan untuk kita pengguna bahasa Jawa ini. Disini yang paling penting adalah kerjasama antara penulis, pendidik, jurnalistik, dunia media massa dan para pengguna bahasa Jawa! Kerjasama yang dimaksud ialah setelah tembung enggal akronim tertentu diorbitkan, bersama-sama mensosialisasikan dengan cara sering menggunakannya dalam tutur tulis maupun lisan berbahasa Jawa.


Hal-hal penting untuk mengorbitkan tembung enggal akronim ialah:
1. Belum ada dalam perbendaharaan dalam bahasa Jawa Baru maupun bahasa Jawa Kuno (Kawi). Apabila sudah ada namun tembung itu dengan intonasi yang kurang baik, maka kita cari tembung akronim sebagai sinonimnya.

2. Terbentuk dari unsur-unsur yang berkaitan dengan makna tembung/istilah yang kita butuhkan dan unsur-unsur pembentuknya sejauh mungkin asli bahasa Jawa (Jawa Baru atau Kawi.)
3. Selalu dipilihkan ‘intonasi’ yang enak untuk ‘telinga’ orang Jawa. Karena intonasi itu soal rasa atau selera maka makin banyak melibatkan banyak orang makin baik hasilnya.

4. Paling penting ialah setelah kita tetapkan satu tembung enggal akronim sebagai istilah dengan makna tertentu, tembung itu kita sosialisasikan bersama-sama kita gunakan bersama-sama yang akhirnya tembung itu menjadi milik bersama seluruh masyarakat pengguna bahasa Jawa. Perlu diingat penciptaan tembung baru itu tidak ada hak-patentya dan tidak akan dikenal penciptanya. Kalau kita terpanggil untuk ambil bagian dalam bentukan tembung enggal bahasa Jawa ini semata-mata karena kecintaan kita akan budaya kita, budaya Jawa. Sia-sia jerih payah kita kalau akhirnya tembung enggal itu tidak digunakan.. Oleh karena itulah betapa pentingnya kerjasama para penulis berbahasa Jawa, para penutur dan pengguna bahasa Jawa!

Langkah-langkah untuk pembentukan tembung akronim:

Pertama:
dibawah ini ada daftar (17 kata) istilah bahasa Indonesia kemudian menjadi istilah
Baru bahasa Jawa dengan proses akronimnya. Daftar kata tersebut sebagai contoh
awal. (Apabila sudah didapatkan kesimpulan sebanyak 17 tembung akronim untuk
dibakukan, tiba giliran Anda untuk memberikan sumbangan tembung enggal
Akronim baru yang Anda merasa membutuhkan semacam format daftar tembung
enggal akronim tersebut dibawah.)
Kedua:
dari tembung baru seperti dalam daftar ini diminta tembung akronim sesuai selera
dan pendapat Anda selain yang sudah disebutkan dengan mengacu hal-hal penting
untuk mengorbitkan tembung enggal akronim di atas. Diharapkan Anda memberikan
akronimnya selain yang sudah disebutkan. Maka akhirnya akan terkumpul banyak
tembung akronim untuk untuk masing-masing 17 kata dalam daftar tersebut.
Berikan akronim Anda dari 17 kata tersebut satukata dengan satu atau lebih akronim
nya lewat komentar artikel ini dalam komentar di blog ini!
Ketiga:
setelah terkumpul banyak akronim dari 17 kata tersebut akan dipilih akronim yang
paling cocok oleh tim yang dibentuk kemudian. Akan diperoleh satu atau lebih akro
nim untuk dibakukan sebagai tembung enggal akronim bahasa Jawa sebagai
tembung lingga. Bagi akronim yang tidak terpilih Anda tak perlu kecil hati karena
sumbangan kita sama besarnya. Juga tidak akan diketahui akronim tersebut sumbang
siapa atau dari mana.

Keempat:
akronim yang sudah dibakukan menjadi tugas kita bersama-sama untuk mensosiali
Sasikan lewat tulisan kitadan penuturan kita sehari-hari


DAFTAR TEMBUNG-TEMBUNG ENGGAL AKRONIM


Indonesia == Jawa == Akronim

1. anggaran == ranja == rancangan blanja
2. cita-cita == paghur == pangajab-gegayuhan-luhur
3. dendam == prangit == pendheman-rasa-sengit; perangit-->prangit
4. diskusi == tabug == tanggap-rembug
5. eksploitasi == ngujru == ngubal-jeru (jeru=jero banget)
6. isteri == 1. padhotri == pasangan-sajodho-putri
==== 2.gatri == garwa-putri
7. Suami== 1. padhoka == pasangan-sajodho kakung
==== 2 garya == garwa-priya
8. kami == sunya == ingsun-sadaya (ingsun=aku)
9. kalian == siraya == sira-sadaya (sira=kowe)
10. mereka == dheya == dheweke-sadaya
11. pasien == nataras == nara-tan-waras (nara=orang, tan=tidak)
12. pil == pagya == priya-gadhangan-liya: pagaya--> pagya
13. wil == wagya == wanita-gadhangan-liya: wagaya--> wagya
14. restaurant == lojana == loji-bojana (loji =omah gedhong, bojana=mangan 15. sexy == sesang == sengsem-gemes-ngrangsang
16. unsur == pablik == perangan-barang-paling cilik
17. warung makan == wajana == warung bojana (bojana=mangan)


Catatan:
1. Kata dasar/bentuk dasar yang berarti suami atau isteri dalam bahasa Jawa belum ada. Yang ada ‘bojo’ atau ‘garwa’. Unsur suami dan isteri sudah tercakup dalam ‘bojo’ atau ‘garwa’ yaitu suami itu ‘bojo’-nya isteri dan sebaliknya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada istilah yang berarti bojo atau garwa, yang ada suami dan isteri husband-wife untuk bahasa Inggeris. Dari sini penulis memandang penting perbendaharaan Jawa lebih bagus dilengkapi istilah yang berdiri sendiri yang bermakna suami dan isteri.
2. Sexy kata bahasa Inggeris yang belum ada pembakuannya dalam bahasa Indonesia dengan makna yang sama. Jika dipungut sebagai bahasa Indonesia menjadi ‘seksi’ rasanya janggal karena baku kata Indonesia sudah ada ‘seksi’ yang bermakna ‘bagian kecil’. Oleh karena itu kata tembung akronim ‘sesang’ ini dibutuhkan untuk terjemahan sexy. Apabila tembung pungut dari sexy menjadi seksi, baku tembung lingga Jawa sudah ada yang berarti ‘melihat’.
AYO KAMI TUNGGU SUMBANGAN AKRONIM ANDA UNTUK 17 KATA DI ATAS. SALURKAN LEWAT KOMENTAR DALAM BLOG INI.
TERIMA KASIH ANDA SUDAH BERJASA DALAM PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN BUDAYA JAWA KHUSUSNYA SASTRA DAN BAHASA JAWA!
TUNGGULAH TEMBUNG ENGGAL AKRONIM AKAN SEGERA TERBIT.
ITU ADALAH MILIK KITA BERSAMA

Label:

Kamis, 03 Juni 2010

PENGEMBANGAN BAHASA JAWA

PENGEMBANGAN BAHASA JAWA
(oleh: Adinda AS.)



PENULIS (saya), dilahirkan dan dibesarkan dalam komunitas keluarga Jawa. Mulai belajar di SD, SMP dan SMA di kota Semarang. Tahun 1965 penulis kelas III SMA. Lepas SMA melanjutkan perguruan tinggi di Yogyakarta. Jadi selama kanak-kanak sampai dengan remaja menjelang dewasa hidup dalam komunitas Jawa, di daerah Jawa, bahasa pengantar dalam pergaulan keluarga, masyarakat sekolah maupun daerah tempat tinggal sepenuhnya berbahasa Jawa.
Maka bukan barang aneh sikap dan minat penulis terbentuk dengan lingkungan dan budaya Jawa. Bukannya sukuisme, tetapi karena pengaruh lingkungan yang kuat itulah sehingga seni musik Jawa dan sastra Jawa yang paling penulis cintai dan akarab dalam kehidupan penulis. Namun demikian penulis tetap terbuka untuk seni dan budaya lain. Penulis juga menyukai musik keroncong, musik dangdut dan tembang Sunda. Demikian juga menyenangi musik klasik India dan Cina.

Oleh karena itulah penulis sangat sependapat apabila dinyatakan bahwa budaya Jawa itu adalah budaya yang adi luhung.


1. MINAT GENERASI MUDA AKAN BAHASA DAN MUSIK JAWA SEMAKIN MENURUN

Dari pengamatan dan banyak kejadian yang dihadapi penulis, membuat hati ini cemas suatu saat nanti budaya Jawa yang adi luhung itu (seni nusik/tembang dan bahasa) akan kehilangan peminatnya. Mungkin ini rasa cemas penulis yang berlebih-lebihan. Namun silakan Anda mengikuti penuturan penulis akan beberapa hal di bawah ini:

Pertama:
Sekitar tahun 80-an, masa itu sedang digalakkannya penataran P-4 oleh Pemerintah Republik Indonesia. Penataran P-4 type A, B dan C, kebetulan penulis terkait dengan pekerjaannya di sebuah BUMN ditunjuk sebagai manggala (penatar P-4) type-B dan C bagi masyarakat pedesaan di wilayah kabupaten Kendal untuk materi penataran GBHN. Tiap angkatan memakan waktu empat hari. Satu hari sendiri tugas penulis untuk menyampaikan materi penataran GBHN tujuh jam lebih, disamping satu hari lagi untuk pendalaman materi. Peserta penataran warga umumnya masyarakat petani di desa yang rata-rata berpendidikan rendah dengan usia 10 – 15 tahun diatas penulis yang saat itu berusia 33 tahun.

Karena peserta tidak biasa berjam-jam duduk mendengarkan orang pidato, maka penulis berusaha mengembangkan methoda sendiri dengan tetap berpegang pada tuntunan resmi penataran P-4 dengan bahasa Indonesia. Untuk kebanyakan petani di desa bahasa sehari-hari adalah bahasa Jawa. Untuk orang-orang tertentu yang penidikannya rendah, lebih lancar berbahasa Jawa.

Penulis banyak memberikan selingan dalam ceramah GBHN itu dengan tembang/sekar macapat. Maka penulis menyiapkan beberapa pupuh cakepan tembang Pangkur yang isinya pesan-pesan pembangunan (GBHN) tentu saja dengan bahasa Jawa murni. Setiap baris ditembangkan, kemudian diuraikan dengan bahasa Indonesia campur bahasa Jawa. Pada baris-baris tertentu dalam penulis menyampaikan tembang Jawa itu peserta penataran diminta ‘nyenggaki’ secara spontan misal “Ajar sabar aja dha kesusu, sawahe jembar-jembar parine lemu-lemu.” Ternyata peserta sangat anthusias dan responsif. Malah kadang-kadang ada senggakan spontan yang ‘minir’ misal: “Ciu sak botole, mlebu sak......eee”; “Bandhulmu gadhekna......” !

Peserta peserta wanita memberengut, peserta pria tambah semangat dan tertawa ngakak. Alhasil suasana penataran gayeng, hidup, meriah, santai dan seluruh peserta betah duduk berjam-jam tanpa bosan sampai dengan akhir!

Dari kejadian ini penulis mencatat, ternyata tahun 80-an itu kelompok masyarakat pedesaan yang berusia 40 keatas masih besar minatnya akan seni musik/tembang Jawa secara aktif.

Kedua:
Delapan tahun kemudian,sekitar tahun 1988, penulis mendapat tugas mengisi kegiatan inhouse trainning untuk para Penyuluh Pertanian Lapangan di kabupaten Kudus, dengan materi “Tehnik penampilan dalam Penyuluhan Pertanian”. Pesertanya semua para PPL dengan pendidikan minimal SPMA, beberapa sarjana dan sarjana muda, dengan usia 5 – 10 tahun di bawah penulis. Semuanya suku Jawa yang bahasa sehari-hari adalah bahasa Jawa.

Karena sasaran penyuluhan adalah petani-petani Jawa komunitas Jawa penulis menyarankan penyuluhan dengan bahasa Jawa murni. Penulis juga mengembangkan methoda “Menyuluh dan Menghibur” yaitu seperti dalam penataran P-4, penyuluh menyampaikan materi penyuluhan dengan tembang Jawa. Penulis memberi contoh dengan satu pupuh tembang pangkur yang berisi pesan pembangunan pertanian dan perkebunan. Penulis minta peserta pelatihan untuk ‘nyenggaki’, namun tak ada seorangpun yang nyambung. Peserta seluruh kabupaten sekitar 100 orang PPL lebih yang terbagi dalam 5 BPP semuanya komunitas Jawa tak seorangpun menyatakan sanggup melaksanakan methoda penyuluhan yang disampaikan penulis dengan alasan mereka tidak bisa nembang macapat satu jenispun.

Methoda ini sebenarnya diilhami acara pak Basiyo siaran di RRI Yogyakarta seminggu sekali programa “Uyon-uyon manasuka-Pangkur Jenggleng” pada waktu penulis masih sekolah di Yogyakarta. Penulis memperhitungkan, cara penyuluhan demikian dengan mengajak para peserta penyuluhan ikut ambil bagian dengan nembang ‘senggak-an’, maka peserta akan lebih terhibur, akhirnya bisa menerima materi penyuluhan dengan lebih jelas!

Komunitas kedua ini ternyata sudah berbeda responnya terhadap seni tembang/musik Jawa, sekalipun masih sama-sama lancar bertutur bahasa Jawa murni walaupun masih sering terdengar mereka bilang: “Sakderengipun mriki kula sampun dhahar rumiyin”(!)

Ketiga:
Pada masa itu penulis juga mengamati mulai banyak keluarga muda kepada putera-puterinya yang masih kanak-kanak dibiasakan berbahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dalam keluarga. Sehingga generasi baru semakin tidak bisa berbahasa Jawa yang baik dan benar, akibat lebih lanjut adalah semakin hilangnya minat generasi penerus untuk berbicara bahasa Jawa! Dan yang paling sulit bagi mereka adalah bertutur bahasa Jawa, membedakan ngoko, krama dan krama inggil.

Keempat:
Tahun 2000-an dari pengamatan penulis, generasi baru dibawah generasi penulis di kota Yogyakarta dan surakarta, keluarga muda yang berasal dari keluarga Jawa, ketika punya anak-anak juga sudah tidak bisa lagi bahasa Jawa sekalipun mereka di lahirkan dan dibesarkan di daerah Yogyakarata yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa, karena bahasa pengantar di keluarganya sehari-hari adalah bahasa Indonesia. Sementara di sekolah SD, SMP maupun SMA mata pelajaran Bahasa Jawa sudah dikeluarkan dari kurikulum!

Memang keluarga-keluarga muda yang asli Yogyakarta/Surakarta atau Jawa Tengah pada umumnya ini tidak salah membiasakan anak-anaknya berbahasa Indonesia di lingkungan keluarganya karena bahasa Indonesia adalah bahasa Persatuan bangsa Indonesia jadi harus diprioritaskan. Yang dikhawatirkan ialah mereka tidak berusaha mengajarkan bahasa Jawa kepada anak-anaknya yang sebenarnya adalah bahasa-ibu, bahasa nenek moyang mereka.

Salah satu alasan ialah karena bapak-ibu muda itu sendiri juga kurang munguasai bahasa Jawa yang baik dan benar! Lebih memprihatinkan lagi apabila mereka berpendapat bahwa dalam kehidupan modern ini masih menggunakan bahasa Jawa dalam pergaulan adalah kuno! Sementara banyak orang-orang bule kebangsaan Amerika, Belanda, Inggeris, Australia jauh-jauh datang ke Indonesia hanya untuk belajar ndalang, nyinden, mbeksa dan main gamelan dengan berpakain beskap lengkap dan kain kebaya!

Sikap orang-orang Jawa seperti tersebut diatas menunjukkan bahwa mereka kurang mencintai budaya Jawa lagi.
Merenungi peristiwa pertama sampai dengan keempat inilah menimbulkan kecemasan besar dihati penulis yang sampai sekarang masih mencintai budaya Jawa. Ada trend yang menurun dengan cepat dilihat dari kehidupan kultur atau budaya yang hidup dalam masyarakat. Dan bukan hal yang mustahil budaya Jawa yang adi luhung itu suatu saat tinggal dalam prasasti atau sejarah saja. Sangat menyedihkan apabila bangsa Imndonesia untuk memperdalam bahasa Jawa besok harus belajar di negara Belanda karena banyaknya sumber pustaka yang diangkut ke negara yang 350 tahun menjajah bangsa Indonesia termasuk orang-orang di Jawa!


2. SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA JAWA

Memperhatikan sejarah perkembangan bahasa Jawa sesuai yang disampaikan dalam buku TATA BAHASA JAWA MUTAKHIR edisi Revisi yang ditulis oleh Dr. Wedhawati dkk, bahwa bahasa Jawa yang sekarang masih digunakan masyarakat di Propinsi Jawa Tengah, Daerah IstimewaYogyakarta, Pripinsi Jawa Timur, Banten, Lampung sekitar Medan, didaerah-daerah transmigrasi di Nusantara juga beberapa negara-negara luar. Bahasa Jawa yang digunakan sekarang ini yang disebut bahasa Jawa Baru merupakan pengembangan dari bahasa Jawa Kuno, yang sering orang menyebut bahasa Kawi. Bahasa Jawa Kuno sendiri pengembangan dari bahasa Jawa Kuno Purba.

Selanjutnya Dr. Wedhawati dkk. Menyatakan bahwa bahasa Jawa Kuno Purba diperkirakan digunakan sejak zaman prasejarah, yaitu dengan ditemukannya fosil manusia purba di Jawa Tengah (Sangiran) yang disebut Pithecantropus Erectus. Dengan fakta itu menunjukkan sudah ada peradaban manusia di Pulau Jawa yang tentunya untuk berkomunikasi masyarakatnya menggunakan sebuah bahasa tertentu.

Pada waktu agama Islam masuk ke Indonesia/Pulau Jawa, bahasa Jawapun mendapat pengaruh bahasa Arab. Pada masa itu dalam tutur bahasa tulispun muncul huruf Pegon (huruf Arab yang disesuaikan dengan bahasa Jawa) disamping huruf Jawa dan huruf Latin yang lebih dulu dikenal masyarakat di situ.

Bahasa berkembang sesuai dengan perkembangan peradaban manusia. Bahasa Jawa Kuno yang digunakan masyarakat Jawa sejak abad pertama sampai dengan abad ke-15. Abad pertama sampai dengan ke-6 masih dalam tingkat tutur lisan. Bahasa Jawa Kuno banyak mendapat pengauh bahasa Sansekerta. (45%). Mulai abad ke-7 sampai abad ke-15 bahasa Jawa Kuno telah dipakai dalam bahasa tutur lisan maupun tulisan. Jadi sejak abad ke-16 sampai dengan sekarang yang digunakan bahasa Jawa Baru tidak lain merupakan pengembangan bahasa Jawa Kuno.

Bahasa Jawa bersama bahasa Melayu, Sunda, Bali, Madura, dan Bugis termasuk satu rumpun-bahasa yang disebut rumpun bahasa Austronesia. Karena serumpun itulah bahasa-bahasa tersebut banyak kemiripan.

3. KECENDERUNGAN PENUTURAN BAHASA JAWA.

Di dalam penuturan bahasa Jawa pada komunitas Jawa baik penuturan tulisan maupun lisan banyak yang tercampur dengan bahasa Indonesia. Apabila campurannya adalah kosakata atau istilah bahasa Indonesia maupun bahasa Asing yang di-Jawa-kan (kata bahasa Indonesia yang digunakan dalam bahasa Jawa) hal ini bisa dimaklumi, karena kurangnya perbendaharaan bahasa Jawa, sementara kebutuhan istilah-istilah tertentu semakin banyak seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan peri kehidupan bangsa.

Namun dalam penuturan bahasa Jawa, masih banyak para penulis memaksakan pemakaian tata bahasa Indonesia kedalam bahasa Jawa. ‘Pemaksaan’ tata bahasa ini menurut kami menimbulkan gangguan, kaitannya dengan kemurnian bahasa Jawa, khususnya pada ragam tutur formal dan literer/pustaka. Justru mengenai tatabahasa atau gramatikanya ini sebenarnya lebih mudah diatasi apabila para penulis/penutur bahasa Jawa lebih memahami baku tatabahasa Indonesia dan baku tatabahasa Jawa sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan bahasa Indonesia (1972) dan pedoman Umum Ejaan bahasa Jawa Yang Disempurnakan (1991) untuk dipakai sebagai pegangan dalam ragam tutur bahasa Jawa yang baik dan benar.

Penggunaan tata bahasa Indonesia kedalam bahasa Jawa sama janggalnya seperti penggunaan hukum DM (diterangkan-menerangkan) ke dalam hukum MD (menerangkan-diterangkan) atau sebaliknya. Misalnya ‘kucing hitam’ menjadi ‘hitam kucing’. Bahasa Indonesia: kucing hitam (DM), tetapi bahasa Inggeris black cat (MD).

Oleh karena itulah di dalam penggunaan bahasa Jawa yang baik dan benar kita harus memahami tata bahasa Jawa disamping menguasai tata bahasa Indonesia, sehingga tidak terjadi tumpang tindih.

Yang banyak terjadi ialah di dalam penuturan bahasa Jawa masih banyak dipakainya tata bahasa Indonesia, sedangkan sebaliknya tidak atau jarang sekali.

Untuk memenuhi kebutuhan istilah/kata baru bahasa Jawa yang diharapkan terus berkembang memang sesuatu yang lebih kompleks, karena tersedianya terbatas. Maka harus diorbitkan kata-kata baru dan ini butuh persiapan dan proses yang panjang.

4. HAL-HAL PENTING DALAM TATA BAHASA JAWA.

Tatabahasa Jawa dimaksudkan di sini ialah tatabahasa Jawa baku yang telah dirumuskan oleh fihak yang berkompetent. Dalam wacana ini penulis berpegang pada sumber referensi buku: TATA BAHASA JAWA MUTAKHIR edisi Revisi yang ditulis oleh Dr. Wedhawati dkk diterbitkan kerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional Balai Bahasa Yogyakarta oleh penerbit Kanisius, th. 2006, halaman 38-43 sebagai berikut:

4.1. Bentuk yang berkaitan dengan Pembentukan Kata

Bentuk-bentuk yang berkaitan dengan proses pembentukan kata ada delapan:
(1) Bentuk dasar
Adalah bentuk tunggal atau kompleks yang menjadi dasar pembentukan kata turunan. Misal: desa--> padesan (desa + pa-/-an);padesan bentuk tunggal, ‘desa’ bentuk dasar atau kata dasar Jw. tembung lingga)
(2) Morfem
Adalah satuan linggual minimal yang bermakna. ‘nulisake’, terdiri 3 morfem: N-, tulis, dan –ake
‘kaendahan’, terdiri 2 morfem: ka-/-an dan endah
‘Endah’ disebut morfem bebas, sedang N-, -ake dan ka-/an disebut morfem terikat. Morfem terikat yang dirangkaikan dengan bentuk dasar disebut “afiks”.
Ada 4 macam afiks:
Prefiks: afiks yang dirangkaikan sebelah kiri bentuk dasar (kata dasar)
Sufiks: afiks yang dirangkaikan sebelah kanan bentuk dasar.
Infiks: afiks yang disisipkan ditengh bentuk dasar.
Konfiks: afiks yang sebagian dirangkaikan sebelah kiri atau disisipkan ke dalam bentuk
dasar dan sebagian yang lain dirangkaikan sebelah kanan bentuk dasar secara
. serempak.
(3) Morfem asal:
Adalah morfem tunggal bebas yang menjadi dasar kata turunan ‘
(4) Morfem pangkal:
Adalah morfem terikat yang menjadi dasar kata turunan.
(5) Morfem unik:
Adalah morfem terikat yang hanya dapat bergabung dengan bentuk dasar tertentu. (6) Bentuk akar:
Adalah hasil pemenggalan yang berupa unsur tak bermakna yang menjadi bentuk
unsur paduan. Bentuk akar dapat dikembalikan pada kata yang menjadi unsur bentuk
paduannya. Misal ‘lung’, pemenggalan balung, dan ‘lit’ pemenggalan kulit dalam
‘lunglit’
(7) Bentuk penggalan:
Adalah satuan lingual pendek, pada umumnya berujud sebuah suku kata, dibentuk
dengan memenggal satu atau lebih suku kata. Misal ‘mbakyu’menjadi mbak atau yu;
‘menyang’ menjadi nyang, simbok menjadi mbok .
(8) Akronim:
Adalah satuan lingual yang dibentuk dengan merangkaikan huruf, suku kata, atau
bagian dari dua kata atau lebih,dengan tetap mempertahankan makna kata kepanjang-
annya. Misal: puskesmas, posyandu, pangestu, pramuka, cerkak, cerbung, paklik,

4.2. Proses Pembentukan Kata:
1. afiksasi, 2. modifikasi, 3. diftongisasi, 4. pengulangan, 5. pemajemukan, 6. kombinasi, 7. pemaduan, 8. pemenggalan, 9. pengakroniman

Disamping itu juga perlu untuk lebih difahami bentuk-bentuk:
- verba
- adjektiva,
- nomina,
- pronomina dan
- Numeralia, masing-masing dengan afiks pembentuknya.


5. BENTUKAN KATA-KATA BARU BAHASA JAWA

Ilmu pengetahuan, perikehidupan dalam berbagai bidang kehidupan bangsa-
bangsa dunia ini berkembang seiring dengan kemajuan zaman. Demikian juga kehidupan bangsa Indonesia termasuk perkembangan bahasa Indonesia menunjukkan kemajuan sehingga bahasa Indonesiapun memiliki kemampuan mengungkapkan dengan jelas penuturan berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang pesat ke dalam bahasa Indonesia. Dan beberapa kali bahasa Indonesia menyempurnakan Ejaan Bahasa Indonesia.

Namun tidak demikian untuk bahasa Jawa sebagai bahasa daerah yang dulu sempat
dinominasikan sebagai bahasa Persatuan Bangsa Indonesia pada awal pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan perikehidupan bangsa yang demikian cepat, masih banyak istilah-istilah dalam bahasa Jawa yang belum ada untuk menterjemahkan istilah-istilah tertentu baik dari bahasa asing maupun bahasa Indonesia sendiri.

Supaya bahasa Jawapun tidak ketinggalan jaman sehingga komunitas Jawa masih bisa mengungkapkan dalam tutur berbahasa Jawa dalam berbagai macam bidang kegiatan, maka kiranya perlu dipikirkan pencarian/pembentukan kata-kata atau istilah baru dalam bahasa Jawa.

Pembentukan istilah/kata baru bahasa Jawa, intinya ialah kita harus berpegang pada baku tata bahasa Jawa yang ada. Oleh karena itulah para penutur bahasa Jawa (lisan dan tulisan) dituntut untuk bisa memahami tatabahasa Jawa yang telah dibakukan. Lebih-lebih bagi mereka yang berkeinginan untuk menyusun kata-kata baru bahasa Jawa harus menguasai baku tatabahasa Jawa ini.

Lalu siapa yang harus mencari/membentuk kata-kata baru bahasa Jawa tersebut? Tidak lain ialah masyarakat pengguna bahasa Jawa itu sendiri, yaitu orang-orang yang masih mencintai bahasa Jawa! Mereka Yaitu masyarakat Jawa sendiri, pengguna bahasa Jawa. Para ‘winasis’ bahasa Jawa, mereka yang berkaraya dalam media Jawa dan para penulis sastra Jawa, orang Jawa yang berprofesi sebagai pendidik dan seluruh masyarakat pengguna bahasa Jawa itu sendiri. Negara dalam hal ini Pemerintah Indonesia memang punya kewajiban untuk melestarikan budaya bangsa, dimana budaya Jawa salah satu dari budaya Nasional dari banyak dan aneka ragam budaya yang hidup di negara kepulauan RI ini. Namun begitu luasnya dan begitu banyaknya budaya bangsa Indonesia ini, maka masyarakat sendirilah yang harus memelihara mengembangkan dan mempertahankan seni budaya yang dimilikinya, Bahasa/sastera adalah bagian dari budaya. Oleh karena itulah penulis tergerak untuk bergabung bersama pengguna dan pencinta bahasa Jawa, untuk melakukan tindakan-tindakan terkait dengan upaya peningkatan dan pengembangan bahasa Jawa. Tentu saja semua itu harus bertumpu pada kaidah-kaidah tata bahasa yang sudah ada serta kebiasaan-kebiasaan yang berlaku.

Ada yang berpendapat bahwa pengembangan bahasa berjalan secara alami. Bahasa akan berkembang dengan sendirinya seiring pertumbuhan sosial termasuk kemajuan budaya, ilmu pengetahuan, ekonomi dan segala segi kehidupan manusia. Dalam kehidupan masyarakat akan lahir istilah-istilah baru secara tidak disadari karena mereka memang membutuhkan, baik itu bentukan istilah baru maupun adopsi istilah dari bahasa asing (bahasa diluar bahasa yang digunakannya). Kelompok ini mengatakan tidak perlu ada ketentuan yang mengatur cara pembentukan kata-kata baru untuk pengembangan sebuah bahasa. Pengembangan bahasa dibiarkan secara alami tumbuh dengan sendirinya seperti yang telah terjadi dari abad ke abad.

Memang faktanya bahasa sudah berkembang sejak peradaban manusia pertama sampai sekarang. Namun berapa banyak literatur yang menyebutkan tentang pengembangan perbendaharaan suatu bahasa? Penulis berpendapat. Bahwa alangkah lebih bagusnya dan lebih cepatnya pengembangan sebuah bahasa komunitas tertentu apabila ada perangkat yang mengatur bagaimana cara pembentukan/pengembangan suatu bahasa. Setidak-tidaknya ada pegangan untuk mengembangkan sebuah bahasa, terutama dalam pengembangan kata-kata baru. Setelah didapatkan kata-kata baru lalu ditempuh cara-cara bagaimana cara sosialisasinya.
Kegiatan ini merupakan proses, dimana penemuan/pembuatan kata-kata baru sebagai langkah awal, selanjutnya dimasyarakatkan lewat sosialisasi dengan cara-cara tertentu dan akhirnya masyarakat pengguna bahasa Jawa bisa menerima, menggunakan dan memilikinya untuk digunakan dalam ragam tutur sehari-hari.

Pembuatan kata-kata baru ini ditempuh apabila kata dengan arti yang sama belum ada dalam perbendaharaan bahasa Jawa. Perbendaharaan kata bahasa Jawa disini dimaksudkan bahasa Jawa baru maupun bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi. Apabila sudah ada kata-kata yang searti dalam bahasa Jawa hanya karena jarang digunakan , maka sejauh mungkin kita gunakan kata itu, sekalian kita ketengahkan kepada masyarakat pengguna bahasa Jawa sekaligus mengingatkan mereka bahwa kata/istilah tadi adalah bahasa Jawa asli. Karena sudah lama tidak digunakan baik dalam tutur lisan maupun tutur tulis, untuk pertama dikenalkan kembali telinga orang Jawa tentu merasa asing. Namun sebagai penerus keturunan budaya Jawa kita lestarikan peninggalan nenek moyang kita itu. Hanya karena kondisi yang tidak memungkinkan misalnya karena bunyinya yang sulit, intonasi kurang bagus dan untuk unsur kepraktisan/efisiensi maka mau tidak mau kita mencari kata-kata baru yang dianggap sebagai sinonim kata-kata yang sudah ada sebelumnya.

Masyarakat bangsa Indonesia diluar suku Jawa tidak akan bisa mengenal itu asli bahasa Jawa atau bukan. Justru mayarakat Jawa sendiri karena banyak istilah-istilah bahasa Jawa yang diadopsi menjadi bahasa Indonesia sudah tidak mengenal lagi itu berasal dari bahasa Jawa atau tidak. Hal ini lebih jauh akan dibicarakan dalam point-point selanjutnya

Apabila perbendaharaan bahasa Jawa dan Kawi tidak ada, barulah kita melangkah untuk mengadopsi istilah yang berasal dari bahasa Indonesa, bahasa daerah lain di Indonesia maupun bahasa Asing bangsa lain.

Secara garis besarnya pembuatan atau pembentukan kata-kata baru bahasa Jawa dengan cara sebagai berikut:


5.1. TEMBUNG MUPU

Tembung mupu (Bhs. Ind: kata pungut) ialah kata dasar atau bentuk dasar yang bukan berasal dari bahasa Jawa diambil menjadi bahasa Jawa dengan sedikit perubahan bunyi atapun tanpa perubahan bunyi. Perubahan bunyi itu diperlukan untk menyesuaikan dengan ‘telinga’ dan kebiasaan atau dialek orang Jawa bertutur. Misalnya ‘alaram’ baku bahasa Indonesia yang nampaknya dipungut dari bahsa Inggeris ‘alrm’ yang berarti tanda bahaya, kita adopsi ke bahasa Jawa dengan perubahan bunyi sedikit menjadi ‘alarem’. ‘belati’ yang berarti sejenis pisau atau golok kecil menjadi ‘glathi’ bahasa Jawa.

Pengertian mupu, pungut atau adopsi artinya sama. Maksudnya adalah anak kecil anak orang lain dijadikan seperti anak sendiri, diasuh dan dipelihara seperti anak sendiri. Dalam hukum Indonesia, anak yang dipungut atau diadopsi dengan hukum yang berlaku, maka anak tersebut memiliki hak-hak seperti anak kandung. Identik dengan pengertian tersebut, satu kata dasar (tembung lingga) yang diadopsi/mupu/pungut menjadi tembung mupu bahasa Jawa, kata turunannya (tembung lingga andhahan) mengikuti kaidah-kaidah tata bahasa Jawa. Glathi dirangkai dengan infiks –in- menjadi ‘ginlathi’ yang artinya ‘dikenai tindakan dengan alat glathi’. Atau glathi dengan prefiks ke- menjadi ‘keglathi’ bermakna ‘tidak sengaja tertusuk glathi.’

Prinsipnya bentuk dasar berasal dari bahasa manapun apabila sudah diadopsi kedalam bahasa Jawa, ia harus tunduk pada ketentuan tata bahasa Jawa.

Bahasa Indonesiapun banyak mengambil tembung mupu dari bahasa Inggeris. Misalnya :
demokrasi, ekonomi, kondisi, dominan, nuansa, tirani, transparan, jenderal, kapten, sersan dst. dengan perubahan ejaan dan bunyi. Untuk tembung-tembung mupu dari bahasa asing itu sudah ada yang dibakukan dalam kamus bahasa Indonesia ada yang belum.


5.1.1. PERBEDAAN PENDAPAT PENULISAN KATA ‘DH’

Konsep dasar bunyi bahasa dalam tata bahasa Jawa menurut Dr. Wedhawati dkk, untuk bunyi konsonan [d] disebutkan sebagai Alofon apiko-dental, yaitu suara bunyi konsonan [d] sepert pada tembung dina (=hari), duga (=kira), dara (=merpati), sada (=lidi), driji (=jari), adreng (=mendesak). Disamping itu bunyi konsonan [d] juga disebutkan sebagai Alofon apiko-palatal. Bunyi yang terdengar seperti pada tembung: dhadha (=dada), dhadhu (=judi), tidha (=ragu), dhredheg (=gemetar), ndhrodhog (=menggigil). Untuk tembung-tembung yang bunyinya demikian penulisannya ditambah huruf ‘h’ dibelakang ‘d.’. masa lalu penulisannya dengan huruf ‘d’ diberi titik dibawahnya.

Namun dalam prakteknya ada dua kelompok yang berbeda pandangan.
Kelompok-I mengatakan: untuk menjadi kata-kata pungut kedalam bahasa Jawa bertalian dengan huruf [dh], penulisannya disesuaikan dengan EYD Indonesia untuk huruf konsonan ‘d’. Maka apabila kita mupu tembung-tembung: demokrasi, daftar, penduduk dari bahasa Indonesia menjadi bahasa Jawa dengan penulisan: demokrasi, daftar, penduduk. (tanpa tambahan huruf ‘h’ dibelakang huruf ‘d’).

Kelompok-II berpendapat tembung-tembung mupu dengan Alofon apiko-palatal dari bahasa Indonesia maupun bahasa asing menjadi bahasa Jawa, penulisannya sesuai kaidah tata bahasa Jawa. Sehingga kata demokrasi, daftar, penduduk setelah di-Jawa-kan menjadi dhemokrasi, dhaftar, pendhudhuk. Dua pendapat berbeda dengan dalih sama yaitu semua mendasarkan tata bahasa baku. Hal ini hendaknya dirumuskan yang tegas! Dalam prakteknya nampak penulis-penulis bahasa Jawa ada yang menganut kelompok-I dan ada yang ikut kelompok- II dengan pengucapan bunyi kata tersebut sama-sama alofon apiko-palatal [dh]. Kami sendiri cenderung mengikuti kelompok-II dengan alasan tembung pungut tersebut kelihatan lebih “Njawa-ni” ! Namun denikian kita harus tunduk kepada ketentuan Lembaga Bahasa Jawa yang paling berkompetent menggariskan hal ini. Bagaimana sebenarnya?

Tentu berbeda masalahnya apabila terjadi penulisan dalam bahasa Jawa sebagai berikut: “Awit tatune amba, dharahe metu akeh banget.”
Dari membaca kalimat tersebut bagaimana pendapat Anda? Sepintas lalu orang menganggap tembung ‘darah’ bahasa Indonesia di adopsi menjadi bahasa Jawa dengan menganut faham Kelompok-II, sehingga menjadi [dh]. Kemudian ada kalimat lain dalam bahasa Jawa: “Sirahe gudras darah disawat watu.”. Orang akan mengatakan, darah itu tembung mupu dari bahasa Indonesia sesuai faham kelompok-I, tidak perlu penulisan [dh] dalam bahasa Jawa.
Dalam kasus ini sebenarnya tidak demikian. Pendapat kedua-duanya salah tentang contoh kedua kalimat di atas . Kedua kalimat diatas “Awit tatune amba, dharahe metu akeh banget.” dan “ “Sirahe gudras darah disawat watu.”. Kedua kalimat itu seluruhnya terbentuk dari tembung-tembung Jawa asli tidak ada satupun tembung mupu. Dalam bahasa Kawi (Jawa kuno) ada tembung “dharah” yang berarti getih dan ada pula tembung “darah” yang juga berarti getih, disamping ada sinonim lain ’ludira”.

Bahasa Jawa Kuno atau bahasa Kawi yang sudah digunakan sejak abad pertama sampai dengan abad ke-6 dalam tutur lisan, dan abad ke-7 sampai dengan abad ke-15 bahasa Jawa Kuno telah digunakan dalam tutur lisan maupun tulis. Maka dalam hal ini beralasan apabila diduga bahasa Indonesia-lah yang mupu dari bahasa Jawa Kuno. Hanya belum jelas yang dipungut itu tembung Jawa Kuno yang “dharah” atau yang “darah”? karena dalam kamus bahasa Kawi terdapat tembung ‘dharah’ dan ‘darah’ yang bermakna sama. Dalam hal ini kebanyakan orang berpikir tembung “darah” itu adalah istilah asli bahasa Indonesia. Karena bahasa Jawa (baru) sendiri sudah memiliki tembung lingga ‘getih atau ‘erah’. Maka pernyataan dua kalimat diatas dalam tinjauan tata bahasa Jawa adalah sama benarnya, sehingga dalam kasus ini tidak ada kejadian tembung mupu.

Ternyata cukup banyak tembung-tembung bahasa Jawa Kuno/Kawi yang dipungut ke dalam bahasa Indonesia sementara orang Jawa sudah jarang/tidak menggunakan kata-kata itu karena sudah punya tembung lingga lainnya yang berarti sama dalam bahasa Jawa Baru. Untuk kata-kata yang kondisinya sama seperti itu tidak jadi masalah karena bahasa Jawa dan bahasa daerah lain berfungsi untuk memperkaya Bahasa Nasional, Bahasa Persatuan, yaitu Bahasa Indonesia. Apabila ada tembung-tembung yang berasal dari bahasa Kawi yang sampai sekarang masih tepelihara dan digunakan dalam bahasa Indonesia, sementara untuk bahasa Jawa Baru tembung yang searti dengan itu juga ada, rasanya tidak salah kita juga ikut menggunakannya dalam tutur bahasa Jawa. Dalam hal ini tidak ada istilah tembung mupu, maka tembung andhannya (turunannya) mengikuti kaidah tata bahasa Jawa sepenuhnya. Apabila dalam bahasaJawa Baru dan Kawi tidak ada seperti yang kita kehendaki, cara mengadopsi bahasa Indonesia ini adalah langkah yang tepat. Disinilah nampak bahwa antara bahasa Indonesia dan bahasa Daerah itu saling memperkaya!

Yang perlu kita perhatikan ialah sudah tidak banyak tembung-tembung dalam bahasa Kawi yang masih digunakan secara terbatas dalam tutur formal dan literer/pustaka. Padahal banyak tembung-tembung tersebut meniliki intonasi yang bagus. Maka baguslah apabila para pengguna bahasa Jawa mulai mengangkat kembali tembung-tembung itu sehingga tidak hilang dari peredaran. Tentu saja terbatas pada kata-kata yang dalam bahasa Indonesia dan Jawa Baru tidak ada, dipilih istilah-istilah dengan intonasi (bunyi) bahasa yang bagus.

Hal yang menggembirakan masa sekarang banyaknya orang-orang memberi nama perusahaan bisnisnya (PT, CV atau bentuk-bentuk organisai perusahaan yang lain) dengan nama-nama bahasa Jawa Kuno yang intonasinya bagus. Sebagai contoh Perusahaan Kereta Api Indonesia menamakan assetnya dengan nama istilah Jawa kuno: Arga Dwipangga, Arga Lau, Arga Wilis, Arga Brama, Sancaka dll. Nama-nama untuk lembaga, perusahaan, real estate banyak yang mengambil nama-nama istilah Jawa yang seiring dengan kebijakan Pemerintah yang pernah melarang pemberian nama-nama yang berbau asing


5.1.2. I N T O N A S I

Intonasi dimaksudkan sebagai lagu bahasa, yaitu lagu yang timbul dari pengucapan kata atau istilah tertentu. Karena disini kita membicarakan bahasa Jawa maka intonasi dimaksudkan sebagai lagu dalam bahasa Jawa. Atau setidak-tidaknya intonasi yang timbul dari pengucapan kata tersebut dan terasa nyaman bagi ‘telinga’ orang Jawa!

Didalam pemasyarakatan suatu istilah/tembung suatu bahasa, intonasi (lagu) bahasa itu memiliki faktor yang penting. Sekalipun istilah itu memiliki makna yang penting tetapi intonasinya kurang, maka lambat sekali memasyarakatnya. Sebagai contoh sekitar tahun 70-an pernah diekspose kata-kata asli bahasa Indonesia sebagai terjemahan kata Asing yang saat itu sedang ramai-ramainya istilah disebut ‘efektif-efisien’ dalam bidang manajemen, yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi “mangkus dan sangkil’ . Kedua kata tersebut hanya sebentar saja dipakai dalam tutur lisan maupun tulis. Sekarang bisa dikatakan sudah hilang dari peredaran. Ada kesan para penutur dan penulis bahasa Indonesia segan menggunakan dua kata tersebut. Penyebabnya ialah kedua kata tersebut mangkus dan sangkil yang sudah dibakukan dalam bahasa Indonesia itu tidak memberikan intonasi yang bagus bagi telinga orang Jawa maupun bangsa telinga Indonesia pada umumnya.

Sama keadaannya sebuah nama diri seseorang. Nama orang yang intonasinya bagus tentu banyak disukai dan lebih berkesan atau diingat orang lain. Contoh: nama orang Jawa 1.“Dewangkara Bayudhana” dan 2.“Legiman Ngadino”. Kedua nama tersebut bentukan dari tembung-tembung Jawa. Sekalipun masalah nama adalah selera, tidak beda kita menanggapi adanya dua lagu, orang merasa lagu ini lebih bagus dibanding lagu ini. Dari kedua nama berbasis bahasa Jawa diatas, banyak orang yang mengatakan bahwa nama Dewangkara Bayudhana itu intonasinya lebih bagus dibanding Legiman Ngadino. Ada juga orang yang mengatakan ‘lebih gagah’ atau ‘lebih modist!. Orang Jawa pada umumnya memberi nama anaknya mengandung makna yang bagus. Nama ’Dewangkara Bayudhana’ itu dari tembung Jawa, Dewangkara= matahari; Bayu=angin; Dhana=kaya/sugih. Juga nama ‘Legiman Ngadino’ dengan makna anak yang dilahirkan hari Minggu Legi itu diharapkan menjadi manusia yang baik dan berguna. Contoh lainnya nama:
1.”Dungiyah Enjuh” dan 2. “Erawati Angganararas”. Kedua nama tersebut ialah nama Jawa untuk wanita. Kebanyakan orang tentu lebih memilih nama Erawati Angganararas dengan intonasi yang lebih bagus. Kedua nama tersebut mengandung makna yang sama-sama bagus. Dungiyah=terpuji, Enjuh=rajin/pinter/prigel. Angganararas=wanita cantik, Erawati=suara angin. Demikianlah cukup penting kita pertimbangkan intonasi sebuah kata/tembung supaya lebih cepat dan mudah memasyarakat. Ingat nasib istilah bahasa Indonesia “mangkus’ dan ‘sangkil’ untuk makna efektif efisien yang disinggung di depan tadi!

5.1.3. KATA-KATA SAMA DALAM BHS JAWA DAN BHS INDONESIA

Bahasa Jawa bersama bahasa Melayu, Sunda, Bali, Madura, dan Bugis termasuk satu rumpun-bahasa yang disebut rumpun bahasa Austronesia. Karena serumpun itulah bahasa-bahasa tersebut banyak kemiripan.

Bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu, yang banyak dipengaruhi bahasa Jawa (Baru maupun Kuno). Bahasa Jawa juga banyak dipengaruhi bahasa Indonesia dan Melayu. Dibawah ini di sajikan sebagian kata-kata dalam bahasa Indonesia yang mirip atau sama dengan bahasa Jawa Kuno. Bahasa Jawa Kuno di sini sesuai kata yang dibakukan dalam kamus KAWI – JAWA karangan C.F. WINTER Sr. dan R.Ng. RANGGWARSITA cetakan kesembilan 2007. Kamus KAWI – JAWA yang disusun oleh C.F. WINTER diterbitkan pertama kali tahn 1879. Tahun 1928 mengalami cetak ulang. Dan tahun 1840 C.F. WINTER mengadakan kerja sama dengan R.Ng. RANGGAWARSITA. Reproduksi dalam bentuk foto print oleh proyek Javanologi tahun 1984. Selanjutnya mulai tahun 1987 sebagai cetakan pertama sampai dengan 19207 sebagai cetakan ke-9.

Dari tulisan ini disajikan dalam bentuk tabel (selengkapnya baca Tabel-1), disusun sebaga berikut:

Kolom-1: berisi kata-kata bahasa Indonesia sesuai baku bahasa Indonesia yang sudah banyak
ditulis di kamus-kamus bahasa Indonesia
Kolom-2: kata-kata dalam bahasa Jawa Kuno atau Kawi sesuai dengan yang dibakukan dalam
kamus KAWI – JAWA, yaitu yang sama atau mirip bunyinya, dan sama atau
artinya dengan kata-kata kolom-1.
Kolom-3: arti kata-kata Kolom-1/kolom-2 dalam bahasa Jawa Baru krama/ngoko, termasuk
Istilah yang searti dengan kolom-1 dan -2 dalama bahasa Jawa Baru.

Berkaitan istilah tembung mupu dalam point 5.1, apabila ada orang yang kemudian berpendapat bahwa kata-kata seperti darah, bulu, galah, ingin girang, maka, kabur dlsb dimana kata-kata tersebut ada dalam baku bahasa Indonesia, juga dalam nahasa Jawa Kuno, orang menduga itu adalah kata bahasa Jawa Kuno yang dipungut bahasa Indonesia. Dengan pengertian kata-kata tersebut yang persis arti dan bunyinya dalam Bahasa Jawa Kuno yang jauh lebih dahulu digunakan dalam masyarakat Jawa. Namun ada pula yang mengatakan bahasa Indonesia itu berakar dari bahasa Melayu. Mngkin saja bahasa Jawa Kuno yang mengadopsi dari bahasa Melayu yang sekarang menjadi bahasa Indonesia. Itu tidak jadi masalah. Bahasa Jawa dan bahasa Indonesia yang berakar dari bahasa Melayu adalah satu rumpun, yang saling kuat mempengaruhi satu sama lain. Dengan adanya satu kata yang sama bunyi dan artinya terdapat dalam bahasa Indonesia dan bahasa Jawa justru menunjukkan kekayaan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa itu sendiri. Apabila satu rumpun bahasa yang masyarakatnya sudah lama erat bergaul tentu hal yang tidak mudah mengatakan mana yang mengadopsi dan mana yang diadopsi.

Dalam Tabel-1 disajikan daftar kata-kata yang searti adalah untuk pengetahuan bahwa beberapa istilah atau kata itu sudah lama digunakan dalam masyarakat Jawa. Dan kaitannya dengan tembung mupu, apabila dalam perbendaharaan kamus KAWI-JAWA sudah ada maka dikatakan bukan mupu lagi. Karena tembung-tembung tersebut berasal dari bahasa Jawa kuno yang sudah dibakukan dalam kamus Jawa-Kawi sekalipun dulunya berasal dari mupu bahasa lain

Dengan Tabel tersebut bagi pengguna atau penulis bahasa Jawa yang selama ini menganggap kosa kata tertentu itu sebagai baku kata bahasa Indonesia sehingga dihindari penggunaannya dalam penuturan bahasa Jawa, setelah mengetahui ternyata kata Indonesia itu juga dibakukan dalam bahasa Jawa Kuno yang artinya juga sebagai bahasa Jawa Kuno asli maka Anda tidak perlu ragu-ragu lagi menggunakannya dalam penuturan bahasa Jawa. Terutama kata yang persis artinya dalam bahasa Jawa Baru tidak/belum ada. Namun demikian apabila dalam bahasa Jawa Baru juga sudah dibakukan dengan arti yang sama dan kata tersebut sudah akrab bagi telinga orang Jawa, maka menggunakan istilah Jawa Baru itu sesuatu yang lebih strategis.


5.2. TEMBUNG AMPIL

Apabila penuangan tembung-tembung baru dengan mupu tidak memungkinkan karena dalam bahasa Indonesia belum atau tidak ada, yang ada dalam bahasa asing (Inggeris, Belanda atau yang lain) dimana kata tersebut dengan lafal sesuai bahasa aslinya adalah sangat asing untuk bahasa Jawa (misal ‘comprehensive’). Untuk kondisi ini, kita tidak ‘mupu’ melainkan ’ampil’ atau pinjam. Dengan istilah ‘tembung ampil’ ini prisipnya sudah berbeda dengan tembung mupu yang sudah diuraikan sebelumnya. Jadi tembung ampil ini berarti tembung berasal dari bahasa selain Jawa digunakan sebagai bahasa Jawa, sifatnya sementara hanya pinjam saja berarti akan dikembalikan lagi. Karena hanya pinjam, tembung ampil ini dikutip apa adanya persis ejaan dan lafal bahasa aslinya. Kata turunannya maupun bunyi tembung ampil ini mengikuti tata bahasa induknya. Misalnya ‘comprehensive’ dengan ‘comprehensible’.

Untuk mmbedakan dengan tembung mupu, penulisan tembung ampil ini dicetak dengan huruf miring. Jadi apabila kita mengambil tembung-tembung bahasa Asing untuk dijadikan tembung ampil penulisannya persis dengan ejaan aslinya dan dicetak dengan huruf miring dimanapun posisi maupun penggunaannya. Jadi semacam penulisan bahasa Latin dalam kesepakatan internasional.

Untuk tembung mupu dari bahasa Inggeris ke bahasa Indonesia seperti: demokrasi, ekonomi, kondisi, dominan, nuansa, tirani, transparan dst. dipandang sudah menjadi tembung bahasa Indonesia, maka kitapun dapat pula mupu tembung-tembung tersebut kedalam bahasa Jawa. Tidak perlu menggunakan tembung ampil dari bahasa Inggeris dengan ejaan aslinya.

Bisa dicatat dalam bahasa Jawa ada juga yang langsung mupu dari bahasa Inggeris misalnya ‘kapital’ yang berasal dari bahasa Inggeris ‘capital’. Sementara bahasa Indonesia memiliki kata sendiri ‘modal’ dan tidak pernah mupu dari bahasa Inggeris yang searti dengan itu. Dalam kejadian ini tidak menutup kemungkinan bahasa Jawa mupu dari bahasa asing (Inggeris dll.) sementara bahasa Indonesia belum mupu kata-kata tersebut.

Dengan perkataan lain apabila bahasa Indonesia sudah mupu tembung dari bahasa Asing, kitapun bisa mupu bahasa Indonesia itu kedalam bahasa Jawa tanpa perubahan bunyi. Disini nanpak bahwa bahasa Jawa juga bahasa daerah lain adalah bagian dari bahasa Indonesia
Jadi prisipnya kita bisa memasukkan bahasa bukan bahasa Jawa dijadikan tembung ampil ke bahasa Jawa, kapanpun dalam kondisi apapun dengan penulisan huruf cetak miring. Hanya yang perlu diingat semakin banyaknya tembung ampil itu nampak dalam tulisan memberikan kesan kita menggunakan bukan bahasa murni Jawa. Atau setidak-tidaknya pembaca mendapat kesan bahwa penulis teks itu terbatas perbendaharaan bahasa Jawanya, atau memang keterbatasan istilah-istilah bahasa Jawa itu sendiri!

Penggunaan tembung mupu dan tembung ampil ini kedalam bahasa Jawa, tembung mupulah yang lebih cepat menyatu dan lebur menjadi bahasa Jawa. Tembung mupu setelah beberapa kali dipakai oleh penulis-penulis Jawa akan menjadi lebih cepat bisa dibakukan sebagai tembung Jawa untuk memperkaya perbendaharaan bahasa Jawa, tidak demikian dengan tembung ampil.

Untuk menghindari tumpang tindih penulisan tembung ampil dengan huruf miring, sementara kita juga suatu saat untuk tujuan tertentu perlu mencetak dengan huruf miring bagi tembung-tembung asli mapun tembung mupu, untuk membedakan hal ini perlu ditempuh penulisan huruf miring untuk kata-kata tersebut dengan ditambah tanda petik di depan dan di belakang tembung. Misal:

Akeh panemu kang absurd yen tirani iku ora mung bisa katindakake dening mayoritas utawa minoritas, nanging uga bisa katindakake para “kawula”. Dalam kalimat ini tembung absurd yang dicetak miring sebagai tembung ampil dari bahasa Inggeris, tirani-mayoritas-minoritas adalah tembung mupu dari bahasa Indonesia dimana bahasa Indonesia sendiri mupu dari bahasa Inggeris dengan perubahan ejaan atau bunyi, dan kawula tembung asli Jawa juga ditulis miring untuk maksud tertentu supaya tidak rancu dengan tembung ampil maka diberi tanda petik menjadi “kawula”.


5.3 TEMBUNG ENGGAL

Apabila penggunaan tembung mupu dan tembung ampil tidak memungkinkan, penulis menggantikan dengan tembung-tembung lain yang ada dua tiga atau lebih tembung Jawa sebagai penjelasan arti kata yang dimaksud. Namun apabila itu sering digunakan menjadi tidak efisien. Dalam hal ini mau tidak mau kita harus menciptakan ‘tembung enggal’

Tembung enggal di sini dimaksudkan sebagai tembung enggal yang sebelumnya tidak pernah diketemukan dalam penuturan tertulis maupun lisan. Tembung itu benar-benar bentukan baru. Tidak terlalu sulit menciptakan tembung-tembung baru yang bernuansa Jawa ini. Yang paling sulit ialah sosialisasi tembung baru tersebut. Yang jelas tembung enggal itu masih asing untuk orang lain. Dalam pembentukan tembung enggal ini perlu mempertimbangkan faktor intonasi seperti yang sudah diuraikan di depan.

Tembung enggal itu akan gagal apabila ternyata orang lain enggan menggunakannya. Perlu ditempuh upaya untuk sosialisasi/pemasyarakatannya sampai tembung-tembung baru itu diterima, digunakan dan dianggap sebagai tembung milik semua orang!

Di sini diperlukan kerja sama para penulis bahasa Jawa. Para penulis tidak perlu masing-masing membuat bentukan tembung baru untuk arti yang sama (=sinonim). Dengan banyaknya tembung-tembung enggal ntuk arti yang sama (sinonim), membuat pengguna bahasa menjadi bingung, berdampak tidak mau menggunakan salah satu darinya. Maka yang paling baik ialah kerja sama antar penulis. Ketika ada satu tembung enggal direlease, penulis lain ikut menggunakan dalam tulisannya sehingga tembung enggal tersebut lebih cepat ‘terorbit’. Disinilah betapa strategisnya posisi dan fungsi majalah berbahasa jawa dengan para penulisnya. Dengan kerja sama beberapa penulis berbahasa Jawa (makin banyak makin baik) bersama-sama membuat istilah-istilah baru bahasa Jawa, bersama-sama diekspose dan disosialisasikan, ini adalah langkah strategis!

Tidak perlu berambisi masing-masing secara sndiri-sendiri membikin tembung-tembung enggal sebanyak-banyaknya. Tembung-tembung baru toh tidak ada hak patent penciptanya, dan tidak akan dikenal penciptanya. Tetapi menciptakan tembung-tembung enggal secara bersama-sama (dalam tim), kemudian disosialisasikan bersama-sama, digunakan bersama-sama, yang akhirnya komunitas Jawa menjadikan istilah tersebut sebagai istilah baru bahasa Jawa milik bersama. Ini adalah cara yang efektif!

Bentukan tembung-tembung baru dapat ditempuh dengan cara:


5.3.1. TEMBUNG ENGGAL DENGAN PROSES AKRONIM

Proses akronim dimaksudkan proses pembentukan kata dengan merangkaikan huruf, suku kata atau bagian dari suku kata atau lebih, dengan tetap mempertahankan makna kata kepanjangannya. Misalnya tembung enggal PRAMUKA
Sebagai tembung enggal istilah PRAMUKA itu muncul tahun 60-an. Masyarakat luas terutama anak-anak murid sekolah memahami maknanya. Terbentuk dari tembung lama bahasa Kawi: ‘Praja’= negara, ‘Muda’=pemuda/anom, ‘Karana’=sebab/pantes/awit. Maknanya ialah “Pemuda yang pantas menjadi harapan banga” merupakan konsep pembinaan generasi muda non politis, untuk menggantikan gerakan kepemudaan sebelumnya sudah ada disebut PANDU.
Tembung enggal PANGESTU bentuk akronim dari ‘paguyuban ngesti tunggal’. Dua tembung enggal Pramuka dan Pangestu sudah sangat memasyarakat yang terjadi secara proses akronim dari tembung-tembung Jawa. Bentuk akronim itu dilafalkan dan ditulis menurut kaidah fonotaktis bahasa Jawa. Kami berpendapat bentukan tembung enggal akronim ini memberikan peluang terbesar di lingkungan masyarakat Jawa. Karena dalam tutur bahasa Jawapun sudah sering menggunakan akronim semacam itu, misal: cerkak, cerbung, budhe, paklik, yangkung, yangti dll.

Mengingat pembentukan kata-kata baru bahasa Jawa lewat proses akronim memberikan peluang terbesar, maka Anda yang tertarik dan berpartisipasi dalam upaya pengembangan bahasa Jawa sipersilakan membaca artikel dengan judul: ”BENTUKAN TEMBUNG BARU BAHASA JAWA DENGAN PROSES AKRONIM” yang juga diketengahkan dalam blok www.ngujiwat.co.cc ini.

Bentukan tembung-tembung enggal bahasa Jawa dengan proses akronim yang paling baik adalah dalam bentuk tim atau kerja sama kelompok, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Dipilih kata-kata bahasa Indonesia dalam sebuah daftar yang sering digunakan dalam bahasa Jawa tetapi belum ada tembung Jawa (tembung lingga) yang searti dengan itu. Anggota tim ikut memberi pilihan akronim dari kata-kata Indonesia dalam daftar tersebut , sesuai dengan selera/pendapat pribadi dengan mengikuti tata cara proses akronim. Bahasa adalah soal rasa. Hal yang wajar masing-masing orang memiliki sentuhan rasa sendiri-sendiri. Apabila seluruh anggota tim sudah membuat alternative akronim untuk arti yang sama sebagai hasil sentuhan rasa secara pribadi, akan terkumpul akronim sejumlah anggota tim (satu orang satu akronim). Satu orang lebih dari satu lebih baik. Dengan terkumpul setiap kata minimal lima sinonim akronim (untuk tim yang beranggotakan lima orang), dipilih satu saja yang paling cocok berdasar pertimbangan anggota tim dengan mempertimbangkan: keindahan intonasi, tidak menyerupai istilah-istilah jorok yang sudah biasa dalam penuturan Jawa maupun bahasa Indonesia, mudahnya pengucapan, bernuansa Jawa dll. Akronim yang terpilih ini nantinya yang akan disosialisasikan.korelasi unsur-unsur pembentuk akronim yang bermkna istilah yang dicari.

Bagi tim yang beranggotakan lima orang bila masing-masing anggota mencari istilah baru bahasa Indesia yang belum ada dalam bahasa Jawa baik Kawi maupun Jawa Baru. Satu orang mengajukan 20 kata saja maka akan terkumpul 100 kata. Juga dibuatkan tembung enggal akronim dan penjelasannya. Anggota tim yang lain membuat alternativ akronim sinonimnya. Diputuskan mana yang terpilih yang akan disosialisasikan.Demikian pada langkah awal ini masing-masing anggota membuat 20 tembung baru, sudah akan terkumpul stidak-tidaknya 100 tembung baru. Yang paling penting ialah seluruh tim nanti berusaha mensosialisasikan tembung-tembung baru yang terpilih alronimnya ini lewat tulisan/naskah yang ditulisnya. Untuk kata, istilah baru, ucapan baru yang bermakna pada waktu pertama ditulis atau diucapkan tentu menimbulkan kejanggalan. Tetapi setelah beberapa kali ditulis atau diucapkan, kata itu mulai dikenal dan terbiasa, akhirnya menjadi kata atau istilah baru yang diterima dan menjadi milik bersama komunitas Jawa. Memang harus ada keberanian yang menulis/menggunakan pertama kalinya. Dengan cara pembentukan tim kerja ini setidak-tidaknya ada lima orang yang dengan mantap menggunakan kata baru itu, karena mereka berlima-lah yang membuatnya! Inilah fugsi strategis para penulis Jawa dalam hal upaya pencarian tembung-tembung enggal bahasa Jawa untuk lebih memperkaya perbendaharaan bahasa Jawa.

Apabila kita lihat sejarah perkembangan bahasa Jawa, bahasa Jawa Kuno Purba digunakan sejak jaman prasejarah. Bahasa Kuno Purba berkembang menjadi bahasa Jawa Kuno, yang digunakan pada abad pertama sampai dengan abad ke-15. Bahasa Jawa Kuno yang sering disebut juga bahasa Kawi berkembang menjadi bahasa Jawa Baru dari abad ke-16 sampai dengan sekarang. Demikian panjangnya!

Namun sampai dengan sekarang untuk istilah ‘suami’ dan ‘isteri’ belum pernah ada. Yang ada adalah istilah ‘bojo’ atau ‘garwa’ yang bermakna pasangan hidup yang sudah nikah secara resmi. Garwa atau bojo tadi mencakup pengertian suami dan isteri. Secara terpisah pengertian ‘suami’ atau ‘isteri’ dalam bahasa Jawa memang belum ada. Sebaliknya bahasa Indonesia kata dasar yang searti dengan ‘garwa’ atau ‘bojo’ tidak ada. Yang ada ialah istilah ‘suami’ dan ‘isteri’, dimana suami adalah garwa/bojo dari isteri atau sebaliknya.

Karena pengertian suami dan isteri adalah pengertian yang biasa dan kita hadapi dalam kehidupan komunitas Jawa sehari-hari, penulis berpendapat lebih lengkap kiranya dalam perbendaharaan bahasa Jawa ada kata dasar yang berarti ‘suami’ dan ‘isteri’

Pembentukan istilah tersebut secara akronim misalnya sebagai berikut:
‘GARYA” sebagai akronim garwa priya yang bermakna suami. Dan pasangannya ialah “GATRI” sebagai akronim garwa putri yang bermakna isteri. Atau:
“PADHOKA” sebagai akronim: pasangan-sajodho-kakung, yng bermakna suami.
“PADHOTRI” sebagai akronim: pasangan-sajodho-putri, yang bermakna isteri.
“NATARAS” sebagai akronim: nara-tan-waras, nara=orang, tan=tidak, waras=sehat. Naratanwaras diakronimkan menjadi ‘nataras’ yang berarti ‘pasien


5.3.2. Tembung Enggal Dadakan

Dimaksudkan pembentukan kata baru secara spontan. Dengan cara ini memang kita bebas membuat istilah untuk suatu makna tertentu dalam bahasa Jawa. Istilah yang disebut dadakan atau spontan ini mencirikan proses pembentukannya pendek, bebas memilih tembung-tembung baru yang belum bermakna yang berintonasi indah. Memang bebas dan mudah pembentukannya tetapi sangat sulit sosialisasinya. Dan bisakah diterima masyarakat pengguna bahasa Jawa? Inilah yang paling sulit. Berbeda bentukan kata baru lewat proses akronim memiliki makna yang bisa dilacak dari unsur-unsur pembentuknya.

Namun dengan bergabungnya beberapa orang atau penulis-penulis Jawa secara bersama akan lebih mudah mengorbitkan tembung-tembung enggal dadakan tersebut. Dan untuk mendukung lebih lancarnya cara ini dicarikan timing yang tepat yaitu tembung enggal itu dilontarkan pada saat-saat situasi yang tepat, sedang hangat-hangatnya topik/tema satu pembicaraan masyarakat luas sehubungan dengan bidang sosial politik, ekonomi, budaya, keamanan dan global.


6. ULASAN PENGGUNAAN TATA BAHASA JAWA YANG TIDAK TEPAT SERING DIGUNAKAN PENULIS-PENULIS BERBAHASA JAWA.

Sering kita jumpai dalam penuturan bahasa Jawa banyak digunakan istilah-istilah yang sebenarnya merupakan baku tata bahasa Indonesia. Hal ini dilakukan karena penulis kesulitan mendapatkan kata-kata yang tepat dalam bahasa Jawa itu sehingga ia terpaksa menggunakan kata turunan berdasarkan kaidah tata bahasa Indonesia Atau mungkin juga penulis tidak menyadari bahwa ia menggunakan kaidah bahasa Indonesia. Kejadian sebaliknya, jarang terjadi tata bahasa Jawa masuk ke dalam bahasa Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa penulis bahasa Jawa dimaksud pada umumnya lebih menguasai pemahaman tata bahasa Indonesia dibanding tatabahasa Jawa.

Yang harus selalu diingat ialah tembung-tembung mupu untuk dijadikan tembung andhahan HARUS menggunakan tata bahasa Jawa !
Oleh karena itulah apabila yang telah diutarakan dalam point 4.1 sampai dengan 5.3.2. dan point 6 lebih dipahami penulis-penulis Jawa, kesalahan-kesalahan yang selama ini sering terjadi bisa dikurangi.

Untuk lebih mudahnya penulis (kami) mengambil sample kalimat-kalimat dari bermacam-macam rubrik majalah atau media berbahasa Jawa untuk digunakan sebagai bahan kajian (study kasus) :

A. Kesimpang-siuran penggunaan konfiks ke-/-an dan ka-/-an dalam penuturan Jawa
Sering terjadi kesimpang-siuran penggunaan tembung lingga menjadi tembung andhahan yang berkonfiks. ke-/-an. Kata-kata berikut sering timbul dalam penuturan Jawa: kesibukan, kedadeyan, ketrampilan, kemewahan, kelembutan, kesempatan kemlaratan, kesejahteraan. Ini tembung andhahan yang tidak tepat, seharusnya kasibukan, kadadeyan, katrampilan, kamewahan dst. Memang ada konfik ke-/-an dalam tata bahasa Jawa tetapi secara terbatas untuk tembung yang bermakna ‘peristiwa yang terjadi tidak sengaja, misalnya: kemalingan, ketindhihan, kebledhosan, kelangkahan, keturon. Artinya tembung andhahan yang bukan bemakna ‘terjadinya peristiwa tidak sengaja’, jangan digunakan konfiks ke-/-an melainkan konfiks ka-/-an. Sehingga tembung kesibukan, kedadeyan, ketrampilan, kemewahan, kelembutan, kesempatan, kemlaratan dan kesejahteraan, yang benar ialah kasibukan, kadadeyan, katrampilan, kamewahan, kalembutan, kasempatan, kamlaratan dan kasejahteraan.

“Arlojiku sing dakselehake ing kursi tamu kelungguhan bapak.” Kata ‘lungguh’ dengan konfiks ke-/-an ini benar karena bermakna tidak sengaja dilungguhi. Justru kalau digunakan ‘kalungguhan’ malah tidak tepat. Namun berbeda kalimat berikut:

“Bapak kagungan kalungguhan sing lumayan ing PT iki”. Ini benar, bermakna, ‘dilakukan tindakan yang dinyatakan pada bentuk/kata dasar.’ Kalungguhan disini berarti jabatan/kedudukan yang dimiliki. Justru jika dalam kalimat ini digunakan kelungguhan, itu salah, karena tidak ada ‘tidak sengaja’ seseorang mendapat jabatan.

“Kamewahan sandhang panganggone nuduhake sugihe.” Ini benar, karena ‘kamewahan’ bentuk dasarnya adjektiva dengan konfiks ke-/-an bermakna ‘hal yang disebut pada bentuk dasar’. Kemewahan tidak pernah akan menjadi kemewahan karena tidak ada istilah tidak sengaja menjadi mewah. Jadi untuk tembung mewah untuk tata bahasa Jawa tidak pernah menjadi ‘kemewahan’ sekalipun tembung ‘mewah’ sudah menjadi tembung Jawa.


B. Prefiks ber- untuk tata bahasa Jawa tidak ada .

Untuk tata bahasa Jawa afiks prefiks ber- tidak dikenal atau tidak ada . prefiks ber- adalah prefiks karakteristik tata bahasa Indonesia yang bermakna ‘melakukan atau memiliki seperti yang dinyatakan pada bentuk dasar’. Oleh karena itu tembung andhahan sebagai berikut: berobat, bertobat, berjuang, bersyukur , bersikap, berhasil, itu tidak boleh ada dalam tutur bahasa Jawa!

“Akeh masyarakat berobat ing Puskesmas.” Obat itu tembung mupu dari bahasa Indonesia. Namun tembung andhahan berobat dalam tata bahasa Jawa itu salah. Kalimat tersebut dengan masih mempertahankan tembung lingga ‘obat’ sebagai tembung mupu, yang tepat menjadi “Akeh masyarakat ngupaya obat ing Puskesmas”.. Apabila dengan konfiks, berbunyi: “Akeh masyarakat ngupaya pangobatan ing Puskesmas” ini juga benar. Yang paling tepat karsakteristik bahasa Jawa ialah tembung obat tidak digunakan karena bahasa Jawa sendiri sudah ada tembung lingga yang searti yaitu ‘tamba’. Sehingga kalimat diatas berbunyi: ”Akeh masyarakat mertamba ing Puskesmas.” Tembung lingga ‘tamba’ mendapat prefiks mer- menjadi mertamba bermakna ‘subjek melakukan perbuatan berkaitan dengan yang disebut pada bentuk dasar. Ini adalah spesifik bahasa Jawa! Atau dengan perkataan lain kata ’berobat’ bahasa Indonesia diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa menjadi ‘mertamba’

“Kanggo nuduhake yen wis bertobat, dheweke nglarung kabeh pusaka lan jimate”. Ini istilah yang tidak tepat: “Kanggo nuduhake yen wis mertobat, dheweke nglarung kabeh pusaka lan jimate.” Mertobat bermakna ‘subjek melakukan perbuatan berkaitan dengan yang disebut pada bentuk dasar.’

“Nadyan akeh wong sing ngina, aku tetep bersikap sabar”. Sikap sebagai tembung mupu, namun bisa dipandang sebagai tembung asli Jawa karena ‘sikap’ dan ‘sikep’ ada dalam baku bahasa Kawi yang searti ‘sikap’ dalam bahasa Indonesia. Bahasa Jawa sudah memiliki t Yang salah disini ialah penambahan prefiks ber-. Tata bahasa Jawa yang betul dengan makna kalimat yang sama menjadi: “Nadyan akeh wong sing ngina, aku tetep asikep (asikap) sabar.” Jika bentuk dasarnya nomina (=sikep/sikap), verba bentuk prefiks a- bermakna ‘ memakai atau memiliki yang disebut pada bentuk dasarnya.’


C. Prefiks ter- dalam tatabahasa Jawa juga tidak ada

Seperti prefiks ber-, prefiks ter- dalam tata bahasa Jawa juga tidak ada. Tembung andhahan: tertarik, tergantung, tertumbuk, terjaring, terpancing, dalam bahasa Jawa adalah salah. Yang betul prefiks ka- menjadi: katarik, kagantung, katumbuk (bentuk dasarnya verba bermakna ‘dikenai tindakan yang dinyatakan pada bentuk dasarnya’), kajaring, kapancing (bentuk dasarnya nomina, bermakna ‘dikenai tindakan dengan alat yang dinyatakan pada bentuk dasar.)

D. Konfiks pe-/-an dan per-/-a tidak ada dalam tata bahasa Jawa.

Konfiks pe-/-an: pewinihan, pengasilan, pengukuhan, pembubaran, pegawean, pelapuran, pengangguran tidakboleh masuk dalam tata bahasa Jawa. Yang ada konfiks pa-/-an, menjadi: pawinihan, pangasilan, pangukuhan, pambubaran, pagawean, palapuran, pangangguran menunjukkan: jika bentuk dasarnya nomina bermakna ‘tempat terdapatnya apa yang disebut pada bentuk dasar’. Jika bentuk dasarnya adjektiva, bermakna ‘menunjukkan keadaan seperti yang dinyatakan pada bentuk dasar. Jika bentuk dasarnya verba, bermakna ‘sesuatu yang dilakukan seperti tersebut pada bentuk dasarnya’.

Dalam tata bahasa Jawa dikenal tembung andahan dengan prefiks pe- terbatas pada kata-kata yang berbermakna gemar melakukan seperti yang disebut dalam bentuk dasar (misalnya: penyanyi pelukis, penulis)
“Akeh owah-owahan ing pemerintahan orde reformasi iki”. Ini salah, yang benar “Akeh owah-owahan ing pamarintahan orde reformasi iki”.
“Undhake rega BBM iku klebu kawicaksanane pemerintah”. Ini betul. Prefiks pe- dalam pemerintah bermakna, ‘gemar melakukan pekerjaan seperti disebut pada bentuk dasar’.
Konfiks per-/-an: permodalan, perjuangan, perburuan, pertarungan, juga tidak ada dalam bahasa Jawa. Yang ada pamodalan pajuangan,pamburuan, patarungan.
“Aku ora duwe perhatian sebab dheweke kerep ora ana ngomah”. Tembung mupu ‘perhatian’ seharusnya bagaimana? Hati adalah tembung mupu. Tembung asli Jawa sudah ada yang searti yaitu ‘ati’. Tembung andhahan ati dalam tata bahasa Jawa: ngati-ati, pangati-ati, dakati-ati, ati-atia dst. Kalau ini yang dipakai, tidak sama dengan maksud kalimat. Maka tembung dengan penggunaan ati tidak bisa dipertahankan, sehingga ‘perhatian’ diganti ‘kawigaten’ artinya sama persis.

“Sawise persiapan bahan bangunan wis cukup, aku banjur golek tukang kayu lan tukang batu”. Tembung ‘persiapan’ ini menyalahi tata bahasa Jawa. Yang benar bagaimana? Bisa ditulis: “Sawise cecawis bahan bangunan dst....” . ini mengikuti dasar bentuk verba pengulangan partial. Cawis yang searti dengan siap menjadi cecawis. Sambat menjadi sesambat, muji menjadi memuji dst.


E. prefiks me- dalam tata bahasa Jawa tidak ada

Prefiks me- tidak bisa digunakan yang ada adalah prefiks ma-. Penggunaan prefiks me- dalam: menganggo, mengetan, mendhuwur, meguru, megawe, yang betul: manganggo, mangetan, mandhuwur, maguru, magawe.
Kalau ‘menjait, ‘menarik’ bagaimana? Dalam tata bahasa Jawa yang benar pernyataan: ‘njait’ dan ‘narik’ ( prefiks +N- dirangkai ‘jait’ dan ‘tarik’) jika perlu prefiks + a- menjadi ‘anjait’ dan ‘anarik’. Jadi penggunaan prefiks me- dalam tata bahasa Jawa adalah salah! Prefiks me- adalah karakteristik bahasa Indonesia yang bermakna ‘melakukan pekerjaan seperti yang dinyatakan dalam bentuk dasar.

Untuk bisa melakukan penuturan bahasa Jawa yang baik dan benar, diperlukan pemahaman tata bahasa Jawa serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku.


Yogyakarta, medio April 2010


Selanjutnya perhatikan Tabel-1 berikut)

Tabel-1:
KATA-KATA DALAM BAHASA INDONESIA, JAWA KUNO DAN
JAWA BARU

INDONESIA== JAWA-KUNO== A R T I

aba == aba == parentah, ungel, uni
agama == agama == tata, agami, agama
aku == aku == kula, aku
aksara == aksara == dedamel, aksara
ambil == ambil == pundhut, jupuk
ampun == ampuni == apunten, apura
aneka == aneka == warna-warni
angkat == angkat == junjung,
antara == antara == antawis
arca == arca == reca
arti == arti == teges

bagi== bagi == andum
bahasa== bahasa == tembung
bakar == bakar == besmi, obong
bangun == bangun == wangun, gugah
batu == batu == sela, watu
bawah == bawah == sor-soran
bibir == bibir == lambe, wiwir
bidan == bidhan == dhukun
bijaksana == bijaksana == wicaksana
biji == biji == wiji
bimbang == bimbang == puteg
bini == bini == garwa, bojo
bintang == bintang == lintang
bulu == bulu == wulu
bunyi == bunyi == mungel, simpen
==
Car==i cari== ngupados, nggolek
Cermin== caremin== pangilon
cela == cela == cacad
cinta == cinta == asih, remen
citra == citra == warni, tulis
coba == cuba == jajal
curi == curi == pandung

dada == dhadha == dhadha
darah, == darah, dharah== getih
dengki == dengki == jail
dewasa == diwasa == baleg, sumedheng
duga == duga == kinten, kira
duka == duka == sisah
duri == duri, dhuri== eri
dusta == dusta, dhustha== awon, cidra, nyolong
duduk == dhudhuk == lenggah, lungguh

Gagal== gagal == mrucut, cabar
galang == galang == panggunggung, palang
galah == galah == watang
galur == galur == urut
ganas == ganas == ganas, trabas
garam == garem == sarem, uyah
gatera ==gatra == warni, awak
gawat == gawat == ewet
gelanggang== gelanggan== papan
gelap == gelap == peteng
gila == gila == edan, ajrih
gubah == gubah == anggit
guna guna == pinter
guntur == guntur == jugrug, gelap, oreg

hias== hiyas == pepaes
hutan == hutan == alas
hidung == hidhung == irung
hilang == ilang == ical

ingat== ingat == enget, eling
ibu == ibu == biyung
ingin == ingin == kepengin
ini == ini == punika, iki
hisap == isep == nesep
isi == isi == isi
isteri == istri == estri
itu == itu == punika,iku

jangka== jangka == ukur
jarang == jarang == awis
jaring == jaring == jaring
jati == jati == temen, yektos
jarum == jarum == dom
jemur == jemur == pepe
juga == juga == uga, piyambak
jujur == jujur == leres
juang == juang == juang
juru == juru == tukang

kabur== kabur == kawur
kacung == kacung == kulup
kadar == kadar == kinten, kedah, jamak
kagum == kagum == kaget
kakak == kaka == kakang
kaki == kaki == suku, sikil
kaku == kaku == kaken, kaku
kala == kala == jaman , nalika
kalau == kalu == menawi
kambing == kambing == menda, wedhus
kami == kami == kula, aku
kanan ==kanan == tengen
kau == kao == sira, kowe
kepala == kapala == sirah
kapur == kapur == kapur
karang == karang == karang,
karya == karya == damel
karung == karung == bagor
kasih == kasih == welas, sih, tresna
kesini == kasini == ngriki
ketemu == katemu == kepanggih, ketemu
kawin == kawin == pacubanan
kaya == kaya == sugih
kayu == kayu == kajeng, kayu
kejar == kejar == bedhag, ngojak
keras == keras == banter
kirim == kirim == kintun, kirim
kita == kita == sira
krida == kridha == solah, damel
kuda == kuda, kudha == kapal, jaran
kumis == kumis == brengos
kurang == kurang == kirang, kurang
kuras == kuras == resik
kurus == kurus == kera, kuru
kusut == kusut == ajrih, anjalebud
kota == kutha == kitha, kutha
kutu == kutu == tuma

laba== laba == bathi
lada == ladha == lombok
laga == laga == lawan, perang
lagu == lagu == ukara, tembung
laju == laju == lajeng
lajur == lajur == ujur
laki-laki == laki, laki-laki == jaler, lanang
laku == laku == lampah, laku
lalai, == lalai == saradan
lalu == lalu == langkung, liwat
lanjut == lanjut == panjang
lantas == lantas == lajeng, banjur
lari == lari == mlajeng, mlayu
larik == larik == larik
larut == larut == larut
lawan == lawan == mengsah, mungsuh
lawan == lawan == tandhing
leher == leher == gulu
lena == lena == supe, pejah
lentur == lentur == lemes
lepas == lepas == ical, bablas
lesu == lesu == lungkrah
lidah ==lidhah == ilat
lidi == lidhi == sada
lihat == lihat == ningali
lilin == lilin == malam
lilit == lilit == pulet, mulet
linglung == linglung == bingung, degleng
lewat == liwat == langkung
laba ==laba == bathi
ludah == ludhah == idu
luhur == luhur == inggil, dhuwur
lumat == lumat == alus, lembut
lompat == luncat, lumpat == lumpat, langkah
lumpur == lumpur == lebu, lendhut
lupa == lupa == supe, lali
luwes == luwes == lemes

maha== maha == langkung, linuwih
makan == makan == mangan
maki == maki == nguman-uman, misuh
makin == makin == sangsaya
masih == masih == taksih isih
malam == malem == dalu, bengi
mengaku == mangaku == ngakoni
panggil == manggil == ngundang
manis == manis == legi
mantan == mantan, manten== kaluwihan, karana
menurut == manurut == miturut
masa == masa == kala, mangsa
emas == mas == emas
masalah == masalah == bab patakenan
masing-masing== masing-masing== sabarang-barang
masuk == masuk == mlebet, mlebu
mata == mata == mripat
mati == mati == pejah, mati
maya == maya == bening, sae
medan == medan == papan
melawan == melawan == nglawani
melupa == melupa == nyunyupe
penuh == menuhi == ngebaki
merdu ==merdu, merdhu == alus
minta == minta == njaluk
mulia == mulya == mulya
musuh == musuh == mengsah, mungsuh

nampak == nampak == ngegla, ketok
tampar == nampar == nempiling
tangis == nangis == nangis
nara == nara == tiyang jaler
neraka == naraka == nraka
nasi == nasi == sekul
kira == ngira == nginten, ngira
ungsi == ngungsi == ngungsi
tipu == nipu == ngapusi
nista == nistha == asor
tuduh == nuduh == nuding

padi == padhi == pantun, pari
pegawai== pagawe == padamel
pagar == pager == paga, pager
paha == paha == pupu
paling == paling == kalangkung
peluru == paluru, peluru == mimis
paman == paman == paman
panas == panas == panas
pedek == pandhak == cebol
pendekar == pandhekar == langkung pinter
pengiring == pangiring == pangirid
paripurna == paripurna == pulih, wutuh, jangkep
pariwara == pariwara == wewulang
paru == paru == paru
pasir == pasir == wedhi
pasrah == pasrah == pasrah
pasti == pasthi == pesthi
petaka == pataka == bilahi
patut == patut == pantes
pedang == pedhang == pedhang
paksa == peksa == peksa
pingit == pingit == keker, simpen
pinta == pinta == njaluk, panyuwun
pintu == pintu == kori, lawang
pipi== pipi == pipi
perkara== prakara == perkawis, perkara
perwira == prawira == prajurit
pribadi == pribadi == piyambak, dhewe
puja == puja == puji, pangalem
pulang == pulang == mulih
pulih == pulih == pulih
pungut == pungut == pendhet
punya == punya == darbe, duwe
purna == purna == rampung
putih == putih == pethak
puteri == putri == estri
putus == putus == pedhot

raga== raga == awak
rahasia== rahasa,rahanya == wados
rambut == rambut == rambut
rencana == rancana, rencana == gubah, rumpaka
rasa == rasa == raos, rasa
raya == raya == ageng, gedhe
rebah == rebah == rubuh
rebut == rebut == rebat, rebut
remuk == remuk == remuk
rimba == rimba == wana, alas
riwayat == riwayat == pitutur
rugi == rugi == rugi,tuna
rupa == rupa == warni
rusak == rusak == risak, rusak

Sabda== sabda == ujar
Saja == sahaja == kemawon, wae
saji == saos == atur
sakti == sakti == linangkung, santosa
salah salah == lepat, salah
selimut == salimut == kemul
sandi == sandi, sandhi == samar
sengaja == sengaja, sangaja == sakajeng, njarag
sangsi == sangsi == sumelang
seperti == saperti == kados
semata-mata == semata-mata == samelok
sapu == sapu == nyaponi
sarjana == sarjana == tiyang pinter, sarjana
sarang == sarang == susuh
sesama == sesama == sesami, pepadha
satria == satriya == tedhake ratu
satu == satu == satunggal, siji
satwa == satwa == kewan
sayembar==a sayembar==a pasanggiri, sayembara
senang == seneng == remen, seneng
seraya == seraya == kanthi
serba == serba == sarwa
sering == sering == asring, kerep
seru == seru == seru, sanget
sikap == sikap, sikep == anggep, cepengan, ngangge
siksa == siksa == siksan
simpul == simpul == bundhel
sini == sini == ngriki, mrene
sirih == sirih == sedah
sisir == sisir == jungkat
suci == suci == suci
sudi == sudi == sedya, gelem
suka == suka == bingah, bungah
susun == susun == sungsun, tunjel

tadah== tadhah == wadhah
taji == taji == sujen, jalu
takut == takut == ajrih, wedi
telaga == talaga == tlaga
tali == tali == tangsul, tali
taman == taman == pataman
tanda== tandha == tenger, tandha
tanggung== tanggung == emban, cekel
tangkis == tangkis == tameng
tantang == tangtang == ajak, ajap
terima == tarima == tampi, tampa
terka == tarka == panyana
tarung == tarung == perang
tarik == tarik == sendhal, gered
tatkala == tatkala == nalika
tamu == tamu == tamu, dhayoh
tawar == tawar == tawa, wudhar
teguh== teguh ==alot
teguk == teguk == ceguk
telah == telah == sampun, uwis
telur == telur, tel == tigan, endhog
tembaga == tembaga == tembagi, trmbaga
tembus == tembus == terus, tembus, tabet
tempuh== tempuh == trajang
tempur == tempur == tempuk
tendang == tendhang == tendhang, dhupak
tepat == tepat == leres, bener
tepi == tepi == pinggir
terang == terang == padhang
terbuka == terbuka == praceka
terka == terka == nyana, panyana
tertentu == tertantu == pasthi
tewas == tewas == pejah, mati
tikung == tikung == enggok
timbul ==timbul == kambang, thukul
timbun == timbun == urug, tumpuk
tinggal == tinggal == tilar, kantun
tinggi == tinggi == luhur, dhuwur
tingkat == tingkat == loteng
tinjau == tinjo == tuwi, mara
tipu ==tipu == cidra
tiri == tiri == kwalon
titip == titip == titip, kintun
tiup == tiyup == damu, sebul
terus == trus == terus
tuju == tuju == tuju
tolak == tulak == tungka, padal
tulis == tulis == serat, tulis
tulus == tulus == tulus, sae
tunda == tundha == tundha, undha
tunggal == tunggal == tunggal
turun == turun == tumurun, mudhun
turut == turut == atut, melu
tutup == tutup == kancing, tutup
tutur== tutur == sanjang, warah
tua == tuwa == sepuh, tuwa

uji == uji == dadar, ingkem
ujung == ujung == pinggir, poncot
ulah == ulah == solah, ulah
undang == undang == undang
upama == upama == upami, upama
upeti == upekti == pisungsung
urus == urus == tata, leres
usik == usik == ebah
usir == usir == larak, usir
utama == utama == utami, utama
utang == utang == sambutan, utang
utus == utus == aken, kongkon

Wagi== wangi == arum, wangi
Wanita == wanita == estri, wanita
warsa == warsa == taun
warta == warta == wartos, warta
wenang == wenang == wisesa, kawasa
wisata == wisata == kesah, lunga


Dari daftar tembung di atas nampak:
1. Antara Indonesia, Jawa Kuno/Kawi dan Arti (Jawa Baru ngoko/krama) beberapa ada yang sama persis baik ejaan maupun tulisan
2. Antara Indonesia dan Kawi sama persis, apabila ada perbedaan hanya beda bunyi sedikit. Ini menunjukkan antara bahasa Indonesia dan Kawi lebih terpadu.

Label: