BUKAN IKLAN
INI BUKAN IKLAN
Selamat datang dan terimakasih Anda telah menjenguk blog ini. Apabila Anda pengguna atau pemerhati bahasa Jawa dan Anda tertarik akan upaya peningkatan bahasa Jawa Anda saya ajak untuk bergabung bersama kami.
Bahasa atau sastra Jawa sebagai bagian budaya Jawa yang adi luhung, marilah kita lakukan tindakan-tindakan konkrit untuk mempertahankan dan lebih-lebih mengembangkan bahasa Jawa ini sehingga lebih berdaya guna.
Perbendaharaan istilah Jawa bisa dikatakan tidak atau kurang berkembang sejak terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia, sehingga sering kali penutur berbahasa Jawa menghadapi kesulitan mengungkapkan secara tepat istilah dalam bahasa Jawa karena terbatasnya perbendaharaan bahasa Jawa, sementara peri kehidupan dari berbagai bidang kehidupan termasuk cabang-cabang ilmu pengetahuan berkembang sangat pesat yang mau tidak mau banyak membutuhkan istilah-istilah baru.
Tanpa peran serta Anda dan para pengguna bahasa Jawa lainnya, kami tidak ada artinya dan mustahil untuk mampu membentuk kata atau tembung baru dalam bahasa Jawa. Maka Anda kami ajak untuk bersama-sama dalam upaya mengembangkan bvahasa Jawa lewat bentukan tembung-tembng baru bahasa Jawa Lewat proses akronim.
Setelah Anda selesai membaca artikel dibawah ini dan Anda tertarik untuk ulur tangan, maka dipersilakan Anda menyumbangkan buah pikiran Anda dengan cara menuliskan komentar Anda dalam blog ini sebagai tanggapan sesuai yang diharapkan dalam teks ini.
Pastilah buah pikiran, sumbang saran dan kepedulian Anda sangat bermanfaat bagi pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa, untuk itu diucapkan terima kasih sebesar-besarnya.
BENTUKAN TEMBUNG BARU BAHASA JAWA DENGAN
PROSES AKRONIM
PERKEMBANGAN kehidupan bangsa-bangsa di dunia ini semakin ke depan semakin maju. Perkembangan dalam segi kehidupan. Ekonomi, sosial, politik, ilmu pengetahuan dll. Bahasa sebagai alat komunikasipun harus berkembang untuk penyampaian tutur lisan maupun tulis.
Tidak terkecuali bahasa Jawa. Supaya bahasa Jawa masih berdaya guna bagi para penggunanya, maka perlu dikembangkan sesuai dengan perkembangan jaman, sesuai dengan yang dibutuhkan. Menurut pengamatan penulis bahasa Jawa sejak kemerdekaan NKRI sampai dengan sekarang rasanya pengembangan perbendaharaan bahasa Jawa kurang berarti. Seringkali penutur bahasa Jawa kesulitan mencari istilah-istilah tertentu dalam bahasa Jawa karena memang belum ada.
Karena itulah penulis mengajak saudara-saudara yang berkeinginan bahasa Jawapun mampu mengungkapkan keinginan seseorang dalam penuturan bahasa Jawa untuk berbagai segi kehidupan. Caranya bagaimana?
Kita perkaya perbendaharaan bahasa Jawa dengan membentuk tembung-tembung baru dalam bahasa Jawa. Oleh siapa? Oleh kita semua pengguna bahasa Jawa.
Dalam prakteknya para penulis dan penutur bahasa Jawa menggunakan bahasa lain untuk istilah tertentu karena bahasa Jawa memang belum ada. Dengan menggunakan apa yang disebut:
1. TEMBUNG MUPU
2. TEMBUNG AMPIL
3. TEMBUNG ENGGAL terdiri:
TEMBUNG ENGGAL AKRONIM
TEMBUNG ENGGAL DADAKAN
No1 dan 2 sudah banyak digunakan oleh penutur bahasa Jawa kita, tetapi cara no 3 ini sangat jarang sekali. Dalam wacana ini hanya dibatasai pembentukan tembung baru bahasa Jawa dengan proses akronim. Apa yang disebut proses akronim? Untuk memahami tentang akronim ini lebih lanjut dipersilakan Anda membaca artikel yang berjudul “Pengembangan Bahasa Jawa” yang disajikan pula dalam blog www.ngujiwat.co.cc ini secara tersendiri.
Proses akronim dimaksudkan ialah proses pembentukan kata dengan merangkaikan huruf, suku kata atau bagian dari suku kata atau lebih, dengan tetap mempertahankan makna kata kepanjangannya. Misalnya tembung enggal: pramuka, pangestu, puskesmas, posyandu dan lain sebagainya. Selanjutnya tembung-tembung bahasa Jawa yang diangkat dari proses akronim kita sebut ‘tembung akronim’
Penciptaan tembung-tembung baru akronim ini penulis berpendapat ini cara paling efektif untuk mengetengahkan tembung-tembung enggal bahasa Jawa dimana kumunitas Jawa sudah terbiasa menggunakan tembung macam itu sehari-hari misal cerkak, cerbung, pakdhe, budhe dll. Disamping itu tembung akronim maknanya mudah dilacak dari unsur-unsur pembentuknya.
Tembung akronim seperti dicontohkan diatas jumlahnya sangat terbatas untuk memberi nama kegiatan, kelompok kegiatan tertentu dan pencanangannya oleh tokoh bangsa/masyarakat. Namun masih banyak istilah-istilah yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari masih belum tampil padahal lebih dibutuhkan. Maka mari kita cari tembung enggal akronim itu oleh kita dan untuk kita pengguna bahasa Jawa ini. Disini yang paling penting adalah kerjasama antara penulis, pendidik, jurnalistik, dunia media massa dan para pengguna bahasa Jawa! Kerjasama yang dimaksud ialah setelah tembung enggal akronim tertentu diorbitkan, bersama-sama mensosialisasikan dengan cara sering menggunakannya dalam tutur tulis maupun lisan berbahasa Jawa.
Hal-hal penting untuk mengorbitkan tembung enggal akronim ialah:
1. Belum ada dalam perbendaharaan dalam bahasa Jawa Baru maupun bahasa Jawa Kuno (Kawi). Apabila sudah ada namun tembung itu dengan intonasi yang kurang baik, maka kita cari tembung akronim sebagai sinonimnya.
2. Terbentuk dari unsur-unsur yang berkaitan dengan makna tembung/istilah yang kita butuhkan dan unsur-unsur pembentuknya sejauh mungkin asli bahasa Jawa (Jawa Baru atau Kawi.)
4. Paling penting ialah setelah kita tetapkan satu tembung enggal akronim sebagai istilah dengan makna tertentu, tembung itu kita sosialisasikan bersama-sama kita gunakan bersama-sama yang akhirnya tembung itu menjadi milik bersama seluruh masyarakat pengguna bahasa Jawa. Perlu diingat penciptaan tembung baru itu tidak ada hak-patentya dan tidak akan dikenal penciptanya. Kalau kita terpanggil untuk ambil bagian dalam bentukan tembung enggal bahasa Jawa ini semata-mata karena kecintaan kita akan budaya kita, budaya Jawa. Sia-sia jerih payah kita kalau akhirnya tembung enggal itu tidak digunakan.. Oleh karena itulah betapa pentingnya kerjasama para penulis berbahasa Jawa, para penutur dan pengguna bahasa Jawa!
Langkah-langkah untuk pembentukan tembung akronim:
Pertama:
Baru bahasa Jawa dengan proses akronimnya. Daftar kata tersebut sebagai contoh
awal. (Apabila sudah didapatkan kesimpulan sebanyak 17 tembung akronim untuk
dibakukan, tiba giliran Anda untuk memberikan sumbangan tembung enggal
Akronim baru yang Anda merasa membutuhkan semacam format daftar tembung
enggal akronim tersebut dibawah.)
Kedua:
dan pendapat Anda selain yang sudah disebutkan dengan mengacu hal-hal penting
untuk mengorbitkan tembung enggal akronim di atas. Diharapkan Anda memberikan
akronimnya selain yang sudah disebutkan. Maka akhirnya akan terkumpul banyak
tembung akronim untuk untuk masing-masing 17 kata dalam daftar tersebut.
Berikan akronim Anda dari 17 kata tersebut satukata dengan satu atau lebih akronim
nya lewat komentar artikel ini dalam komentar di blog ini!
Ketiga:
paling cocok oleh tim yang dibentuk kemudian. Akan diperoleh satu atau lebih akro
nim untuk dibakukan sebagai tembung enggal akronim bahasa Jawa sebagai
tembung lingga. Bagi akronim yang tidak terpilih Anda tak perlu kecil hati karena
sumbangan kita sama besarnya. Juga tidak akan diketahui akronim tersebut sumbang
siapa atau dari mana.
Keempat:
Sasikan lewat tulisan kitadan penuturan kita sehari-hari
DAFTAR TEMBUNG-TEMBUNG ENGGAL AKRONIM
Indonesia == Jawa == Akronim
1. anggaran == ranja == rancangan blanja
2. cita-cita == paghur == pangajab-gegayuhan-luhur
3. dendam == prangit == pendheman-rasa-sengit; perangit-->prangit
4. diskusi == tabug == tanggap-rembug
5. eksploitasi == ngujru == ngubal-jeru (jeru=jero banget)
6. isteri == 1. padhotri == pasangan-sajodho-putri
==== 2.gatri == garwa-putri
7. Suami== 1. padhoka == pasangan-sajodho kakung
==== 2 garya == garwa-priya
8. kami == sunya == ingsun-sadaya (ingsun=aku)
9. kalian == siraya == sira-sadaya (sira=kowe)
10. mereka == dheya == dheweke-sadaya
11. pasien == nataras == nara-tan-waras (nara=orang, tan=tidak)
12. pil == pagya == priya-gadhangan-liya: pagaya--> pagya
13. wil == wagya == wanita-gadhangan-liya: wagaya--> wagya
14. restaurant == lojana == loji-bojana (loji =omah gedhong, bojana=mangan 15. sexy == sesang == sengsem-gemes-ngrangsang
16. unsur == pablik == perangan-barang-paling cilik
17. warung makan == wajana == warung bojana (bojana=mangan)
Catatan:
1. Kata dasar/bentuk dasar yang berarti suami atau isteri dalam bahasa Jawa belum ada. Yang ada ‘bojo’ atau ‘garwa’. Unsur suami dan isteri sudah tercakup dalam ‘bojo’ atau ‘garwa’ yaitu suami itu ‘bojo’-nya isteri dan sebaliknya. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak ada istilah yang berarti bojo atau garwa, yang ada suami dan isteri husband-wife untuk bahasa Inggeris. Dari sini penulis memandang penting perbendaharaan Jawa lebih bagus dilengkapi istilah yang berdiri sendiri yang bermakna suami dan isteri.
2. Sexy kata bahasa Inggeris yang belum ada pembakuannya dalam bahasa Indonesia dengan makna yang sama. Jika dipungut sebagai bahasa Indonesia menjadi ‘seksi’ rasanya janggal karena baku kata Indonesia sudah ada ‘seksi’ yang bermakna ‘bagian kecil’. Oleh karena itu kata tembung akronim ‘sesang’ ini dibutuhkan untuk terjemahan sexy. Apabila tembung pungut dari sexy menjadi seksi, baku tembung lingga Jawa sudah ada yang berarti ‘melihat’.
Label: Sebuah himbauan
